Pasca Gempa, Tenda Romantis Penuhi Kebutuhan Biologis Warga Kec.Cilaku

0
611 views

Laporan : Eka Rufa ||

Cianjur – BogorPolitan.com,

Sosok Ustadz Ferry (51) pemimpin Ponpes Assuyuthiyyah di Kampung Bayubud, Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku kini menjadi buah bibir masyarakat.

Anak ke 7 dari 8 saudara itu rupanya menjadi penggagas berdirinya tenda Romantis atau sakinah disekitaran tenda pengungsian.

Lipatan terpal biru yang membentuk segitiga trapesium mirip tenda anak pramuka tampak biasa-biasa saja, namun sekilas tentu akan bertanya-tanya apa fungsi dari tenda itu?.

Ya, syahwat kebutuhan biologis menjadi awal muasal berdiri tegaknya Tenda Sakinah, seperti namanya itu diperuntukkan untuk pasangan suami istri saja.

Ustadz Ferry mempersilahkan istilah apapun dipakai, entah itu Tenda romantis, Tenda Biru, Tenda sakinah, Tenda mawadah dan lainnya asal dengan pemikiran yang positif.

Berawal dari obrolan bapak-bapak, mendengarkan curhatan seseorang yang telah lama merantau selama berbulan-bulan ketika mendapati rumahnya telah hancur dan tinggal ditenda pengungsian bersama sang istri rupanya memunculkan hasrat bergejolak ingin bercinta.

Sehari dua hari nampak biasa saja, namun seterusnya apalah daya rasa kangen belum terobati, itulah yang menginisiasi Ustadz Ferry dan warga lainnya untuk menfungsikan tempat yang sebelumnya untuk ibu menyusui.

Fasilitas Tenda romantis hanya seadanya, jauh dari kesan hotel bintang 1 sekalipun. Tak ada kasur dan ada bantal empuk menghiasi tempat itu.

Bahkan sempat akan dijadwalkan bergantian, namun malah malu-malu dan merasa takut akan diintip orang lain.

“Ya, memang kasihan kami pun berembuk dan memakai tempat itu untuk pasangan suami istri,” kata Pria berpeci hitam dan berkaos kerah yang tidak ingin disebutkan nama nya.

Ustadz Ferry dan masyarakat sekitar turut mengawasi keberadaan dan pemakaian tempat itu. Akan tetapi ketika ditanyakan berapa banyak Pasutri telah memakainya malah tersenyum dan tak bisa menyebutkan angka pasti.

Perjalanan Tenda romantis rupanya hanya berjalan tiga hari. Tepatnya Sabtu, (26/11/2022) keberadaannya tersingkir oleh tenda lebih besar.

Dihilangkannya Tenda romantis bukan karena penolakan, tetapi keterbatasan lahan mengingat berdatangannya tenda- tenda yang lebih besar menghiasi.

Rencananya, Tenda romantis akan didirikan lagi. Mengenai lokasinya warga Kampung Bayubud akan kembali berembuk.

Bagi Ustadz Ferry kebutuhan biologis begitu penting disamping logistik. Bahkan ia pun ingin pemerintah memfasilitasi hal demikian untuk menghindari zinah dan perbuatan tercela yang ditimbulkan syahwat semata.

Selain itu komitmen menjaga adab dan istiadat telah ada sistem ditenda memisahkan antara pengungsi pria dan wanita.

“Harusnya pemerintah disetiap tenda diadakan karena sangat penting merupakan kebutuhan manusia,” ujar pria yang kerap disapa Aa itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini