BogorPolitan – Kab. Bogor,
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tonjong 2 Desa Tonjong, Kecamatan Tajurhalang telah melaksanakan Pembelajaran Tata Muka (PTM) di ruang kelas. Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) dengan Tatap Muka ini dilaksanakan dengan mengedepankan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat dan sudah dilaksanakan sejak 3 minggu lalu.

Kepala SDN Tonjong 2 Senah Nurhasanah kepada media ini mengungkapkan di Kecamatan Tajurhalang sudah ada beberapa sekolah dasar negeri yang juga sudah melaksanakan KBM dengan Tatap Muka, Selasa (23/2).
Saat ditanya alasan pelaksanaan PTM dimasa Pandemi ini Senah menuturkan ada berbagai faktor yang mendorong untuk PTM diantaranya kemauan siswa dan orangtua siswa karena sudah 1 tahun tidak adanya pembelajaran di kelas hingga membuat kejenuhan siswa dalam melaksanakan PJJ.
“Banyak orangtua siswa yang kesulitan membimbing anaknya dalam belajar online, belum lagi ada yang tidak memahami pola pembelajaran dengan metode daring, gangguan sinyal, tidak punya Hp android yang mendukung dan sebaginya sehingga mereka menginginkan PTM,” jelasnya.
Sebelumnya tentu kita sudah koordinasi dengan pihak pemerintahan desa dan Satgas Covid, selain sarana dan prasarana Prokes kesehatan yang harus memadai sesuai dengan aturan juga dilengkapi dengan surat pernyataan orangtua sebagai salah satu syarat dilaksanakannya PTM, sambungnya.
“Pembelajaran tatap muka kami laksanakan dengan mengedepankan protokol kesehatan Covid seperti yang disyaratkan pemerintah. Kami berupaya menyediakan tempat cuci tangan di depan kelas, siswa dan guru juga mengenakan masker serta jarak duduk juga diatur, sekolah juga menyediakan masker bagi para siswa dan guru,” katanya.
Sebelum pelaksanaan PTM kita lakukan penyemprotan disinfektan dan secara rutin seminggu sekali kita lakukan.
Menurutnya, sebelum memulai pembelajaran tatap muka, pihaknya juga telah meminta orang tua siswa agar tidak bepergian ke luar daerah. Agar tidak menjadi persoalan bagi siswanya.
Senah melanjutkan dalam proses KBM dibagi menjadi dua shift yang masuk pada pagi dan siang hari, dengan jumlah siswa dibatasi maksimal 10 orang untuk setiap kelas.
“Karena rombongan kelas keseluruhan ada 17 rombongan belajar sementara kesediaan ruang kelas kurang dari 17 maka KBM kita laksanakan dengan 2 shift, anak belajar tidak setiap hari tapi seminggu sekali karena dalam 1 kelas kita bagi menjadi 3 atau 4 kelompok. Jadi perkelas dalam PTM ini ada yang 7 siswa, 8 siswa maksimal hanya 10 siswa,” urainya.
Sementara itu, Aurel siswa kelas V mengaku senang bisa kembali belajar di sekolah. Karena selama ini sudah jenuh berada di rumah.
“Belajar di rumah enggak ada yang mengajarnya. Di kelompok juga ramai terus, kurang berkonsentrasi,” kata Aurel.
Orangtua Aurel, Sihombing mengatakan dengan PTM ini anaknya sangat semangat dan senang bisa sekolah lagi.
Semoga dengan menerapkan Prokes yang benar anak bisa belajar dengan nyaman dan nyaman disekolah.
“Harapan utamanya tentu Pandemi ini segera berakhir, agar semua kegiatan berjalan dengan normal,” ujarnya berharap.
Dharmawan






