Oleh Bambang Yulistyo Tedjo
Forum Akar Rumput Indonesia
Bogorpolitan.com – Bogor
Laporan : Retno Handayani
Di setiap sejarah perlawanan, selalu ada satu pola yang berulang: musuh tidak selalu datang dengan senjata, tetapi dengan tawaran.
Dan seringkali, yang lebih mematikan dari peluru adalah perpecahan. Politik divide et impera yang artinya pecah belah lalu jajahlah warisan Kolonial tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti wajah, menyesuaikan zaman, menyusup ke ruang-ruang perjuangan, termasuk dalam gerakan pengguna NAPZA hari ini. Gerakan yang lahir dari luka, stigma, kriminalisasi, dan pengabaian negara sudah seharusnya berdiri di atas solidaritas. Namun realitasnya, di tengah barisan itu, mulai tampak retakan. Ada yang tetap setia di jalur perjuangan, menjaga api advokasi tetap menyala. Tapi ada pula yang berbelok arah menjadi oportunis, menjadikan isu sebagai komoditas, dan menjual penderitaan kolektif demi keuntungan pribadi.
Perlawanan tidak selalu dihancurkan dari luar. Dalam banyak kasus, ia justru lapuk dari dalam dimakan oleh kompromi, dilubangi oleh kepentingan dan dijual oleh mereka yang dulu bersumpah untuk berdiri di garis yang sama. Gerakan pengguna NAPZA hari ini sedang menghadapi penyakit yang lebih berbahaya dari stigma: perpecahan yang disengaja dan dipelihara. Politik divide et impera tidak lagi datang dengan wajah kolonial, tapi dengan bahasa yang lebih halus yakni “kemitraan”, “kolaborasi”, “program pemberdayaan”. Di balik istilah yang terdengar manis itu, terselip agenda lama: memecah barisan agar lebih mudah dikendalikan.
Kami melihat sendiri bagaimana gerakan ini mulai kehilangan arah. Ada yang tetap tegak, menjaga integritas, menolak tunduk pada sistem yang sejak awal menindas. Tapi tidak sedikit yang justru menyeberang menjadi perantara kekuasaan, menjadikan penderitaan komunitas sebagai komoditas, dan menghalalkan segala cara demi keberlangsungan hidupnya sendiri. Mari kita bicara terang: ini bukan sekadar “perbedaan strategi”. Ini soal keberpihakan. Ketika ada yang membungkus praktik represif dengan jargon rehabilitasi, ketika tes urine tanpa pengawasan dianggap prosedur biasa, ketika kriminalisasi dipoles menjadi “intervensi kesehatan” lalu kita diam, atau lebih buruk lagi, ikut membenarkan maka kita bukan lagi bagian dari perjuangan. Kita telah menjadi alat dari sistem yang kita klaim lawan.
Kutipan Tan Malaka tentang idealisme sebagai kemewahan terakhir bagi pemuda bukan sekadar romantika revolusioner. Itu adalah peringatan. Dalam kondisi terdesak, ketika hidup dipertaruhkan, ketika akses ekonomi ditutup rapat, idealisme memang terasa seperti barang mewah. Tapi justru di situlah ia diuji: apakah kita tetap memegangnya, atau menjualnya dengan harga diskon demi kenyamanan sesaat? Kami tidak menutup mata bahwa banyak kawan berada dalam situasi sulit. Sistem ini memang dirancang untuk membuat kita lemah, bergantung, dan akhirnya tunduk. Tapi menjadikan itu sebagai pembenaran untuk mengkhianati perjuangan adalah bentuk kekalahan yang paling telanjang.
Yang lebih menyakitkan, mereka yang memilih jalan oportunis seringkali tampil paling depan.
Mereka menguasai panggung, berbicara atas nama komunitas, mengklaim diri sebagai representasi suara pengguna. Padahal yang mereka wakili bukan kepentingan kolektif, melainkan kontrak, proyek, dan relasi kuasa yang menguntungkan segelintir pihak. Sementara itu, suara akar rumput yang jujur, keras, tidak bisa dibeli justru didorong ke pinggir. Dicap terlalu radikal, tidak kooperatif, atau tidak “strategis”. Ini ironi paling pahit: Ketika, kejujuran dianggap ancaman, dan kompromi dianggap kecerdasan.
Forum Akar Rumput Indonesia berdiri bukan untuk menjadi bagian dari simulasi perjuangan. Kami berdiri untuk mengingatkan bahwa gerakan ini lahir dari penderitaan nyata yakni sel tahanan, penjara, kekerasan , diskriminasi, jalanan, kehilangan hak dasar sebagai manusia dan perbuatan melanggar HAM lainnya.
Ini bukan panggung untuk mencari legitimasi, tapi ruang untuk merebut kembali martabat. Jika hari ini kita terpecah, itu bukan karena kita lemah.
Tapi karena ada yang dengan sadar memilih untuk memecah. Dan kepada mereka yang masih bertahan di jalur ini: jangan tertipu oleh gemerlap panggung dan janji-janji kosong. Sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang pandai bernegosiasi dengan ketidakadilan.
Ia berpihak pada mereka yang berani menolak tunduk, meski harus berjalan lebih sunyi. Perjuangan ini tidak butuh banyak orang. Ia hanya butuh orang-orang yang tidak bisa dibeli.






