Laporan : Eka Rufa ||
Cianjur – BogorPolitan.com,
Sebanyak 675 Kepala sekolah dan 45 pengawas dari 16 kecamatan yang ada di Kabupaten Cianjur, dalam kegiatan Pembinaan Kepala Sekolah di Gedung GGM jalan Ir.Haji Juanda Panembong Kabupaten Cianjur, Jum’at (11/11/2022).
Dalam materi Implementasi peningkatan IPM, Pendidikan anti korupsi terhadap bantuan sekolah dan Implementasi sekolah penggerak.
Hadir pada kegiatan Bupati Cianjur, Kepala Disdikpora, Kabid SD, Kabid GTK dan narasumber dari inspektorat.
Bupati Cianjur H.Herman Suherman mengatakan, mengingatkan kepada para kepala sekolah agar tidak mewariskan yang tidak baik ke depan. “Bagaimana caranya? Semua lulusan SD wajib melanjutkan pendidikannya ke SMP. Semua datanya harus dilaporkan ke saya, sehingga ke depan tidak ada lagi lulusan SD yang menganggur,” tegas Herman kepada wartawan, Sabtu (12/11/2022).
Menurutnya, setiap guru maupun kepala sekolah, diwajibkan melakukan visitasi ke rumah orangtua siswa. Langkah itu dilakukan agar terbentuk komunikasi antara sekolah dengan orangtua untuk memantau perkembangan secara akademik maupun nonakademik. “Beritahu (orangtua) kondisi anak mereka. Jadi orangtua juga bisa ikut menjaga dan mendidik anak mereka,” katanya.
Diapun mengingatkan agar para kepala sekolah tidak boleh bermain api dengan mempermainkan berbagai dana bantuan yang diterima. Semua bantuan harus transparan dan akuntabel. Pasalnya upaya pembenahan harus terkonsep yang dilakukan setahap demi setahap, untuk bisa mendongrak IPM. Termasuk mendorong peningkatan angka harapan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
“Jangan ada yang berusaha korupsi. Kalau ada yang coba-coba, segera laporkan ke saya. Karena saya ingin usia harapan ingin sekolahnya naik. Saat ini, Kabupaten Cianjur baru sampai 18 tahun (setingkat SMA). Kita ingin usia ingin sekolahnya jadi 25 tahun. Anak-anak Cianjur harus kuliah, S1 atau S2,” terangnya.
Herman mengaku Pemkab Cianjur telah meluncurkan Titik Nol Pendidikan. Peluncuran diawali dengan mendorong Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, menjadi perguruan tinggi negeri.
“Mudah-mdudahan saja dengan adanya “Titik Nol ini” insya Allah jadi penyemangat bagi warga Cianjur melanjutkan pendidikan. Insya Allah di Cianjur bakal ada perguruan tinggi negeri,” katanya.
Herman tak memungkiri, selama ini hampir 30-40% lulusan SMA di Kabupaten Cianjur memilih melanjutkan pendidikannya ke luar daerah. Kondisi tersebut tentu berdampak terhadap IPM karena menjadi salah satu indikator.
“IPM-nya jadi mendongkrak ke daerah lain. Padahal, ada warga Cianjur yang sedang mengeyam pendidikan di daerah tersebut. Makanya,” pungkasnya






