‎Jimmy Hantu :  Ubah Limbah Dapur SPPG Menjadi Cuan 

0
27 views

Bogorpolitan.com, ‎Tamansari –  Inovasi pertanian semakin berkembang, salah satunya limbah  dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG)  diubah menjadi pupuk organik dan menghasilkan Cuan.

‎‎Di dapur SPPG Yayasan Mutiara Keraton Solo yang berada di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.

Limbah  dari  dapur SPPG  diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) .  Setelah melewati lima bak kontrol  penyaringan.

‎Hasil penyaringan limbah di salurkan ke lahan perkebunan Jagung.  Alhasil, metode ini terbukti mampu menghasilkan tanaman yang subur tanpa menggunakan bahan kimia sama sekali. Bahkan hasilnya aman dikonsumsi langsung dan bisa menjadi contoh bagi para pemilik dapur SPPG dalam mengelola limbah.

‎Praktisi pertanian Sujimin mengungkapkan bahwa pada dasarnya IPAL tersebut merupakan limbah organik ‎dari cucian sayur mayur, daging dan sebagiannya. Ketika dikebalikan ke tanah tentunya bakal menjadi organik lagi.

‎”Bagimana caranya agar limbah tersebut tidak menimbulkan baik tidak sedap. Tentunya pembuat Ipal SPPG bukan seperti septic tank tetapi dibuat penyaringan perkotak -kotak. Sehingga Ipal SPPG tidak menimbulkan bau,” ujar pria yang biasa di sapa Jimmy Hantu usia panen Jagung bersama anak TK Mutiara Hati.

Jimmy Hantu menjelaskan dalam pengelolaan limbah dapur SPPG sangat penting jangan asal buat yang berdampak bau dan mencemari lingkungan sekitar.

‎Untuk metode pembuatan Ipal SPPG dengan cara membuat kotakan saringan limbah sebanyak kurang lebih lima kotakan saringan limbah.

‎Lalu, dipisahkan limbah organik dan non organik. Setiap satu Minggu sekali, kotak penyaringan limbah dibersihkan.

‎Limbah yang sudah melewati penyaringan diberikan bakteri. Setelah itu, limbah dapur SPPG bisa langsung menjadi pupuk organik .

Untuk sisa sampah organik bisa digunakan juga untuk pupuk . Metodenya, sampah organik tersebut diuraikan dan disebar ke setiap tanaman. Ketika sampah organik di tumpukan, itu yang menyebabkan baik busuk.

‎”Tanpa pupuk kimia, hasil pengelolaan limbah dapur SPPG bisa menghasilkan pupuk organik. Terbukti, tanaman jagung yang menggunakan limbah organik menghasilkan panen yang bagus,” ungkapnya.

‎Anak-anak TK Mutiara diedukasi bagimana merubah limbah dapur SPPG menjadi pupuk organik. Setelah itu, diajakan panen jagung manis yang mengunakan pupuk organik hasil limbah dapur SPPG.

‎Tidak hanya diedukasi pengelola limbah organik, anak-anak juga bisa langsung mencicipi jagung mentah hasil panen. Terbukti, jagung mentahnya aman dikonsumsi dengan rasa manis.

‎”Ini membuktikan bahwa limbah SPPG bukan petaka bagi para pemilik dapur, akan tetapi bisa menjadi peluang usaha alias Cuan. Terpenting, dapur SPPG harus bersih dan Ipalnya harus ada. Jangan sampai dapur SPPG menganggu masyarakat sekitar. Ketika dapur SPPG, Ipalnya tidak ada dan menimbulkan bau tak sedap, BGN bisa langsung menutup dapur tersebut” tegasnya.

‎Untuk pembuatan Ipal saringan tidak perlu luas lahan yang luas. Standar Ipal memiliki lima kotak saringan dengan ukuran perkotaknya satu meter kali satu meter.

Ding-ding Ipal dibeton, dan kedalam Ipal tidak perlu dalam. Ketika Ipal terlalu dalam dilewatirkan malah mencemari lingkungan sekitar.

‎”Ipal jangan dibuang ke saluran irigasi atau disedot menggunakan sedotan WC. Nanti , nanti limbah nya mau dibuang ke mana. Ipal harus di olah menjadi pupuk organik sehingga menghasilkan cuan dan tidak merugikan lingkungan sekitar,” tukasnya. (AS)

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini