Tinggal di Rumah Panggung Reot, Anggi Disabilitas Sepi Tanpa Ibu, Hidup dalam Keterbatasan Bersama Kakek-Nenek

0
198 views

Laporan : Sandi / Eka Rufa ||

Bogorpolitan.com – Cianjur,

Di sebuah bilik panggung yang hampir robak-robuk termakan usia di Kampung Sarongge, hiduplah secercah harapan yang hampir padam. Anggi Suherman (20), seorang pemuda dengan disabilitas fisik bawaan, harus menjalani takdir hidup yang pahit di usianya yang masih sangat muda.

Siapa sangka, di balik raganya yang terbatas, Anggi menyimpan luka batin yang mendalam. Ia adalah buah cinta dari pasangan Sanudin dan almarhumah Enah. Namun, sejak ibunda tercinta berpulang ke rahmatullah, dunia Anggi serasa runtuh. Sang ayah yang kemudian menikah lagi, membuat Anggi harus merelakan dirinya tak lagi memiliki tempat di rumah sendiri.

“Setelah ibunya meninggal dunia dan bapak menikah lagi, Anggi tinggal sama saya,” ujar seorang nenek renta dengan suara bergetar, matanya sembab menahan haru saat menceritakan kondisi cucunya.

Anggi kini hanya memiliki sandaran hidup dari kedua kakek dan neneknya yang sudah renta dan termakan usia. Mereka tinggal berdesakan di sebuah rumah bilik panggung yang kondisinya sangat memperihatinkan. Dinding bambu yang sudah lapuk, lantai papan yang reot, dan atap yang bocor di sana-sini, seakan menjadi saksi bisu perjuangan keluarga kecil ini melawan kerasnya hidup.

Di usianya yang sudah senja, kakek dan nenek Anggi tak pantang menyerah. Demi mengisi perut yang keroncongan, lelaki tua itu masih tegar memikul cangkul menjadi kuli tani. Itu pun hanya jika ada tetangga atau warga yang membutuhkan tenaganya. Penghasilan tak menentu, kadang ada, kadang tiada. Hari-hari mereka lalui dengan keprihatinan yang begitu dalam.

Perekonomian keluarga yang tak layak, ditambah kondisi Anggi yang tak bisa leluasa bergerak karena keterbatasan fisiknya, menjadikan hidup mereka jauh dari kata cukup. Tak jarang, mereka harus menahan lapar atau makan sekadarnya.

Di tengah keheningan kampung, di balik dinding bilik yang hampir roboh, Anggi dan kakek-neneknya berjuang bertahan. Mereka adalah potret pilu negeri ini yang masih tersembunyi.

Kisah Anggi adalah panggilan nurani. Di balik senyum kecutnya, tersimpan harapan besar agar ada uluran tangan para dermawan yang mau menjenguk dan meringankan beban hidupnya.

Bagi dermawan yang ingin berbagi rezeki, sedikit bantuan akan sangat berarti bagi keluarga ini. Rumah bilik panggung di Kampung Sarongge RT 005/007, Desa Sukajadi, Kecamatan Campaka, Cianjur, kini menjadi saksi bisu perjuangan mereka melawan keterbatasan. Semoga ada malaikat kecil yang turun tangan membawa keajaiban bagi Anggi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini