Problematika Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah

0
92 views

BogorPolitan – Artikel,
Elis Siti Nurhayati, mahasiswi semester 1 program studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Bahasa Arab merupakan salah satu Bahasa yang dikenal dikalangan dunia luas dengan segala aspek keindahan nya. Dan ini bukan hanya sekedar Bahasa bagi umat islam. Bahkan diklaim terdapat sekitar 280 juta penutur asli bahasa Arab di dunia. Oleh karena itu, menguasai bahasa Arab merupakan suatu hal mutlak yang harus diperoleh di samping keterampilan lainnya.

Mempelajari bahasa asing itu seperti sudah menjadi keharusan bagi setiap orang disetiap negara saat ini. Karena dengan mempelajarinya, kita bisa mengerti atau paham dengan bahasa asing, itu dapat memudahkan kita dalam berinteraksi dan berkomunikasi jika kita sedang berpergian ke luar negeri. Selain bahasa Inggris, masih banyak juga bahasa asing yang tidak kalah pentingnya untuk dipelajari oleh setiap orang, khususnya di Indonesia. Salah satu dari banyaknya itu adalah bahasa Arab. Tujuan dari pembelajaran bahasa Arab itu sendiri adalah untuk memperkenalkan berbagai bentuk keterampilan berbahasa yang dapat membantu memperoleh kemahiran berbahasa, dengan menggunakan berbagai bentuk dan ragam bahasa untuk berkomunikasi, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

Dapat kita ketahui, bahwa bahasa Arab merupakan salah satu bahasa asing yang banyak diajarkan di sebagian sekolah-sekolah di Indonesia, baik itu di kota maupun di desa-desa, dan kebanyakan Bahasa Arab diajarkan di madrasah-madrasah atau pondok-pondok pesantren, yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Dilihat dari jumlah peminatnya, bahasa Arab tidak begitu banyak peminatnya, dibandingkan bahasa asing lain yang diajarkan. Oleh karena itu, guru hendaknya mempunyai strategi atau teknik pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan selama mengajar. Sehingga bisa membuat orang lain tertarik untuk belajar bahasa Arab.

Pada kenyataannya pembelajaran bahasa Arab sekarang ini belum bisa menghasilkan siswa yang mampu memahami pelajaran yang diajarkan, sehingga di luar sekolah ia tidak mampu menerapkan apa yang telah dipelajarinya di sekolah. Karena siswa tidak tertarik dengan pelajaran tersebut, yang membuat siswa merasa tertekan dengan pelajaran tersebut.

Mempelajari bahasa asing di Indonesia tidaklah mudah. Oleh karena itu, baik guru maupun siswa seringkali menghadapi banyak kesulitan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kendala merupakan halangan, rintangan, keadaan yang membatasi suatu kegiatan baik formal maupun non formal. Problematika atau kendala yang ada dalam segala hal selalu menuntut untuk bisa diselesaikan. Begitu juga dengan problematika pembelajaran bahasa Arab, tidak hanya mengkaji tentang masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga berusaha untuk menemukan solusi dan jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Problematika Dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah

Pada prosesnya, pengajaran bahasa Arab di level pendidikan mana pun sesungguhnya sangatlah kompleks. Kompleksitas itu kemudian menimbulkan masalah. Pada hakikatnya, masalah berada mulai pada pihak-pihak yang terlibat dalam pengajaran, seperti guru dan siswa sebagai yang utama serta pihak terkait lainnya seperti kepala sekolah dan tenaga kependidikan penunjang, sampai pada hubungan satu sama lain. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Arab pada Madrasah Tsanawiyah tidak luput dari berbagai kendala dan problematika. Problem tersebut tidak hanya terjadi pada peserta didik, namun juga dari sisi lain telah menunjukkan kejanggalan yaitu problem pada pendidik.

Problematika pertama, masalah motivasi dan minat siswa dalam belajar bahasa Arab. Motivasi adalah hal penting yang berkaitan langsung dengan perilaku belajarnya dan hasil pembelajaran. Motivasi siswa dapat timbul baik dari dalam dirinya sendiri sebagai buah dari
pengalaman belajar yang positif pada sebelumnya.

Yang ke-dua, masalah perbedaan individu antar siswa dalam satu Kelas. Karena dalam satu kelas tidak mungkin seorang siswa memiliki kemampuan yang sama, bisa jadi ada sebagian yang sebelum nya pernah belajar bahasa Arab, dan sebagian ada yang belum pernah mempelajari bahasa Arab. Hal ini juga bisa menjadi salah satu problem yang dapat menghambat pembelajaran dikelas.

Yang ke-tiga, masalah sarana dan prasarana penunjang pengajaran. Sarana dan prasarana yang disediakan di tempat belajar juga menjadi salah satu problem yang dapat menghambat pembelajaran. Bukan hanya yang minim prasarana, terkadang yang sudah memiliki sarana pun, terhambat. Karena pemanfaatan nya yang tidak optimal sehingga siswa tidak dapat mendapatkan keuntungan dari ketersediaan fasilitas tersebut. Terlebih yang sarana dan prasarana nya belum memadai, membuat siswa semakin cepat merasa bosan dengan pembelajaran yang konvensional dengan menggunakan alat seadanya.

Yang ke-empat, kompetensi guru secara akademik, pedagogik, personal, dan sosial. Seharusnya seorang guru bahasa Arab, memiliki latar belakang pendidikan akademik jurusan bahasa Arab pula. Tetapi sekarang ini di Indonesia banyak pengajar bahasa Arab yang tidak memiliki latar belakang pendidikan dari jurusan bahasa Arab. Kompetensi akademik kebahasa-araban sesungguhnya menjamin kemampuan pedagogik guru dalam mengajarkan bahasa Arab kepada para siswanya.

Yang ke-lima, metode pengajaran yang digunakan. Seorang pengajar diharapkan dapat memilih dan menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan latar belakang sosial dan ekonomi para siswa, serta kultur masyarakat setempat. Agar dapat mencapai hasil pembelajaran yang maksimal dan tujuan pengajaran yang dicanangkan.

Yang ke-enam, waktu pengajaran yang tersedia di dalam dan di luar kelas. Jumlah jam pelajaran yang digunakan untuk pembelajaran, dapat mempengaruhi hasil pencapaian belajar-mengajar. Oleh karena itu penambahan waktu pelajaran diluar kelas sangat dimungkin kan, untuk menambah kuantitas maupun kualitas kemampuan siswa dalam pelajaran.

Yang ke-tujuh, lingkungan berbahasa yang mendukung kemampuan siswa. Lingkungan kelas bukanlah satu-satunya yang harus diperhatikan dalam pembelajaran. Lingkungan diluar kelas, lingkungan rumah, dan lingkungan bermain nya juga harus mendukung terhadap proses pembelajaran nya. Karena jika hanya salah satu saja yang mendukung, mungkin saja hasil yang dicapai kurang maksimal.

Yang ke-delapan, penerapan fungsi-fungsi manajemen oleh tiap-tiap individu dalam lingkup organisasi madrasah belum terdistribusi secara maksimal. Media dan instrumen pembelajaran memiliki pengaruh dalam membantu guru mendemonstrasikan bahan atau materi pelajaran kepada siswa sehingga menciptakan proses belajar-mengajar yang efektif didalam kelas. Tanpa adanya media dan instrumen dalam mengajar, membuat pelajaran dikelas terasa monoton dan membosankan.

Yang ke-sembilan, kurang padunya kurikulum yang diterapkan dalam pembelajaran bahasa Arab. Kurang padunya kurikukum yang diterapkan dapat dilihat pada beban belajar siswa yang terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran yang terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, rencana pembelajaran harus disusun sesuai kebutuhan dengan mengoptimalkan kemampuan siswa untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Selain akan berpengaruh pada hasil yang didapatkan rencana pembelajaran juga, akan sangat berpengaruh pada proses berlangsung nya pembelajaran.

Langkah-langkah Yang Diambil Dalam Mengatasi Problematika Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah

Terdapat beberapa masalah atau problematika yang terjadi dalam pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Tsanawiyah. Oleh karena itu harus dilakukan beberapa tindakan guna mengatasi problematika yang ada dan mengoptimalkan proses belajar-mengajar.

Pada umumnya pembelajaran Bahasa Arab itu harus menyasuaikan dengan kemampuan siswanya. Yang mana seorang pengajar itu harus mengetahui terlebih dahulu latar belakang para siswanya baik latar belakang pendidikan, ekonomi, maupun sosialnya. Agar mudah dalam menentukan dan menerapkan metode pembelajaran saat proses belajar-mengajar dikelas.

Dalam pembelajaran Bahasa Arab terdapat tiga tingkatan yang biasa diterapkan, guna mudah memahami materi yang disampaikan sesuai kemampuan para siswanya, diantaranya; Mustawa Mubtadi’, Mustawa Mutawasith, Mustawa Mutaqaddim. Dan empat kemampuan yang harus dikuasai dalam pebelajaran bahasa Arab, yaitu; istima’, qira’ah, kalam, dan kitabah.

Dalam mengatasi problematika yang terjadi pada peserta didik, upaya mengatasi kurangnya pemahaman siswa. Dalam hal ini guru berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran bahasa Arab, guru dituntut untuk lebih peduli kepada murid dengan menegur dan memberikan nasihat.

Kemudian, upaya mengatasi problematika rendahnya motivasi belajar. Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah dengan cara menasihati dan juga menyemangati mereka dengan memberikan pujian dan nilai. Dengan mendapatkan pujian ataupun apresiasi dari gurunya atas pencapaian yang ia dapat, membuat seorang siswa itu merasa berhasil dalam belajar dan merasa senang bahkan bangga dengan usaha yang dilakukannya.

Dalam mengatasi problematika yang terjadi pada seorang pendidik, kurangnya kompetensi guru dalam menguasai kelas. Upaya untuk mengatasi problematika guru dalam pembelajaran bahasa Arab yang kurang dalam kompetensi menguasai kelas adalah dengan cara melakukan penilaian kepada guru yang mengajar, memanggil guru tersebut dan dilakukan pembinaan serta juga mengikut sertakan dalam acara pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan wawasan dan kompetensi guru dalam mendidik siswa.

Kemmudian, kurangnya kompetensi guru dalam menyampaikan pelajaran. Dalam hal ini, yang harus dilakukan adalah membenarkan dan menata ulang kurikulum yang dipakai, kemudian membuat silabus pembelajaran yang mudah, dan yang nanti nya baru diadakn pembinaan atau di ikut kan diklat-diklat.

Metode Pembelajaran Bahasa Arab yang Efektif

Adapun salah satu metode yang mudah dalam menguasai Bahasa Arab adalah dengan metode mustaqili. Metode mustaqili ini diyakini sebagai Teknik penguasaan yang paling mudah dipahami bagi kalangan pemula maupun pelajar non-Arab sekalipun. Metode ini mengambil pendakatan komprehensif dengan penguasaan teknik membaca kitab, menulis, menerjemahkan, mengarang, sampai berbicara bahasa Arab.

Mengapa harus menggunakan metode mustaqili?
Karena metode ini telah digunakan diberbagai kalangan institusi dan lembaga kursus belajar Bahasa Arab. Dan metode ini memiliki kelebihan; metode yang terbaik, praktis, dan konsepnya yang sederhana sehingga mudah dipahami. Belajarnya tidak membutuhkan banyak waktu, sekitar 203 jam saja. Metode ini telah digunakan sebagai kurikulum Bahasa Arab di Daruttauhid Aa Gym, dan lembaga bahasa Arab di IPB Bogor.

Konsep belajar metode mustaqili ini degan 90% praktek, didesain untuk mempraktekkan rumusan kalimat Bahasa Arab. Selain itu, metode ini juga bersifat mandiri, yang mana metodenya mudah dapat merangsang pelajar untuk menanamkan sendiri kalimat Bahasa Arab. Serta, dengan metode ini siswa dapat menjiwai Bahasa Arab (Dzauq ‘arabiyyah), seperti percakapan sehari-hari, membaca tulisan arab, menrjemahkan serta mengarang dalam Bahasa Arab dengan baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini