Oleh : L I N
Bogorpolitan.com, Tulisan Pembaca
Buat banyak orang, Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember itu identik dengan panggung , pita merah, dan acara seremonial yang penuh tepuk tangan. Tapi buat aku, yang sudah sering diajak oleh ayah ibu datang menghadiri peringatan itu sejak umur 4 tahun, bagi seorang anak umur 15 tahun yang tumbuh di antara rapat, laporan pengaduan, rumah singgah, ruang perawatan, rehabilitasi dan cerita rumah tahanan yang sering kudengar, perayaan yang seperti itu rasanya terlalu jauh dari kenyataan yang aku lihat setiap hari.
Di rumah singgah tempat ayah dan ibuku beraktifitas , aku sering melihat orang datang dengan wajah capek, takut, atau malu. Ada yang menangis sambil cerita soal kekerasan, ada yang bingung setelah didiskriminasi, saat salah satu anggotanya bermasalah dengan narkotika serta hukum, ada yang cuma ingin ditemani ngobrol , didengar dan dipeluk. . Di sana nggak ada panggung, tapi banyak sekali keberanian. Nggak ada kasir, tapi ada manusia yang berusaha bertahan hidup. Dari tempat itu aku belajar kalau Harm Reduction itu bukan soal “ngasih izin hal buruk”, tapi soal menyelamatkan nyawa , hal yang nggak pernah dijelaskan di sekolah.
Yang makin bikin aku mikir adalah ruang-ruang perawatan yang aku lihat: bangsal kecil, nakes yang sedikit tapi kerja sekuat tenaga, pasien yang menunggu berjam-jam karena antreannya panjang banget. Ruang-ruang sunyi yang jarang masuk media tapi justru di situlah kehidupan dipertahankan. Dan di sisi lain, ada juga makam-makam sederhana mereka yang sudah pergi duluan. Bagiku, doa bersama untuk mereka yang sedang sakit, mereka yang telah meninggal dan menyantuni anak-anak yang ditinggalkan jauh lebih bermakna daripada panggung seremonial. Aku ingat beberapa teman ayah ibuku yang meninggal, Om anu, tante anu dan masih banyak lagi. Ayah selalu mengingatkanku “ Jangan pernah bertanya kenapa mereka meninggal Dunia! “. Hening, tidak ada pita merah, tidak ada seremoni. Hanya tanah yang menyimpan cerita yang terpotong terlalu cepat.
Karena itu, aku merasa perayaan tiap 1 Desember itu sudah terlalu biasa. Media sibuk menampilkan capaian program, memajang angka-angka, dan memposting foto pejabat, tapi lupa sama hal yang paling penting: bagaimana bisa diringankan beban hidupnya. Mengingat mereka dengan ketulusan rasanya lebih jujur tentang apa yang dibutuhkan daripada menghafal slogan. Dan jujur saja, anggaran yang dipakai untuk acara-acara itu akan jauh lebih berguna kalau dialihkan untuk hal yang benar-benar menyentuh hidup orang: membantu transport ODHIV agar bisa ambil obat dan konsultasi dengan dokter secara berkala , memberi santunan bagi mereka yang kesulitan ekonomi, mendukung rumah singgah dan relawan yang bekerja tanpa sorotan, atau memberi pelatihan pada guru supaya edukasi HIV di sekolah nggak lagi sebatas “jauhi narkoba” tanpa penjelasan. Sebagai remaja, mungkin aku belum bisa melakukan hal sebesar yang ayah dan ibu dan kawan-kawannya lakukan. Tapi aku bisa menulis, bertanya, dan belajar berpikir kritis. Dan aku percaya, perubahan itu sering lahir dari tempat-tempat kecil , bahkan dari catatan seorang anak yang tumbuh di antara rapat online, ruang perawatan sunyi, dan rumah singgah yang penuh harapan.
Tentang Penulis :
LIN adalah pelajar SMKN 1 Kota Bogor. Nama LIN dipilihnya sebagai identitas jurnalistik karena singkat, tegas, dan penuh sikap. Lahir di Bekasi pada 2011, ia tumbuh di tengah denyut kerja advokasi kedua orang tuanya: rapat komunitas yang tak pernah selesai, suara perjuangan yang terdengar dari ruang-ruang rapat, hingga kesibukan di rumah singgah yang selalu penuh cerita kemanusiaan.






