Kue Dopi, Makanan Khas Ciasihan Pamijahan Jadi Sorotan KKN 069 UIN Jakarta

0
646 views

BogorPolitan – Pamijahan,

Kabupaten Bogor adalah salah satu kabupaten di Jawa Barat yang memiliki banyak kuliner yang sudah ada sejak generasi ke generasi.

Seperti halnya kue Dopi khas Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, yang sampai sekarang masih dilestarikan.

Mahasiswa anggota KKN 069 UIN Jakarta berkesempatan mencicipi kue tersebut ketika menghadiri acara “Seren Taun” yang diadakan Pemerintah Desa Ciasihan pada 10 Muharram kemarin.

Kue Dopi ini hanya dapat ditemukan pada Bulan Muharram saja, tidak pada Bulan Hijriyah lainnya karena kue Dopi ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat desa Ciasihan pada bulan Muharram.

Ahmad (53), pembuat kue Dopi mengatakan, bahwa resep kue Dopi ini sudah menjadi resep turun menurun dari para leluhur Desa Ciasihan hingga ia dapat melestarikan dan proses pembuatan Kue Dopi biasanya memakan waktu 2 hingga 3 jam saja.

“Jadi kita harus mencari bahan-bahan nya terlebih dahulu, mulai dari kulit bambu kuning yang berumur 3-4 bulan, beras/ketan. Setelah itu cara masaknya pun tidak jauh beda dengan memasak lemper, hanya masukan bahan-bahan ke atas kulit bambu kemudian dilipat hingga berbentuk segitiga, kemudian kukus hingga warna kulit bambunya berwarna coklat,” ujar Ahmad.

Ahmad sendiri tidak memperjualbelikan kue Dopi ini secara luas hingga masuk ke pasar Hal ini dikarenakan kue Dopi ini hanya diperbolehkan dibuat ketika Bulan Muharram tiba saja.

“Mau cari di pasar manapun, kue Dopi ini gak bakal kalian temuin. Karena pesan para leluhur kepada warga sekitar itu, kue Dopi ini hanya dibuat ketika Bulan Muharram tiba saja dan kue ini kita jadikan sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT di bulan Muharram,” tambahnya.

Kenapa bentuknya harus segitiga, Ahmad melanjutkan, karena kue ini hanya boleh mulai dibagikan kepada warga sekitar di waktu magrib telah tiba untuk melambangkan jumlah rakaat Sholat Maghrib yaitu 3 rakaat.

Ahmad sangat berharap keberadaan kue Dopi ini tetap eksis dan terus dikembangkan oleh generasi ke generasi.

“Ya makanya dari panitia Seren Taun dan pembuatan kue Dopi ini saya ikut-sertakan para pemuda sekitar, supaya anak generasi zaman now ini melek sama budaya leluhur yang harus dijaga karena merupakan aset dan ciri khas yang kita punya,” pungkasnya. (And)

Penulis : Hafizh Syah Putro, KKN 069 UIN Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini