Kab.Bogor, Bogorpolitan.com ||
Memasuki musim penghujan, Pemerintah Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, menggelar kegiatan mitigasi bencana, sosialisasi kesiapsiagaan, serta penanaman pohon di wilayah rawan longsor.
Dengan mengusung slogan “Gunung Hejo, Masyarakat Ngejo” (Gunung Hijau, Masyarakat Makan), program ini bertujuan untuk melestarikan alam sekaligus melindungi warga dari potensi bencana.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk anggota Bhabinkamtibmas, Babinsa, Binwil Desa Puraseda, ketua RT, RW, kepala dusun (kadus), dan masyarakat setempat.
Penanaman pohon difokuskan di Dusun 4, tepatnya di Kampung Ciputih, yang merupakan wilayah perbukitan dan berada di hulu Sungai Cipuraseda.
Kepala Desa Puraseda, Asep Ruhiyat, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim penghujan yang disertai angin kencang.
Penanaman pohon diyakini dapat menjaga kestabilan tanah, terutama di area perbukitan.
“Akar-akar pohon yang menyebar dan saling bersinggungan dapat memperkuat tanah sehingga mencegah longsor. Kami juga melakukan monitoring ke wilayah rawan bencana serta sosialisasi tentang kewaspadaan saat cuaca ekstrem,” ujar Asep pada Sabtu (21/12).
Bibit pohon yang ditanam dalam program ini berasal dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Puraseda, yang secara legalitas telah diakui melalui Surat Keputusan (SK) Desa.
KTH fokus pada pembibitan pohon berkayu keras seperti puspa, raksamala, serta tanaman buah-buahan.
“Penanaman ini difokuskan di Kampung Ciputih karena kawasan tersebut berada di hulu Sungai Cipuraseda dan dihuni oleh warga yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam,” katanya.
Melalui program penghijauan ini, Asep berharap bencana alam seperti longsor dapat dicegah. Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Dengan menjaga alam, alam akan menjaga kita. Semoga di musim penghujan ini tidak terjadi apa-apa, dan Allah SWT melindungi kita dari bencana,” harapnya.
Selain Kampung Ciputih, program serupa juga dilakukan di Kampung Citugu yang masih berada di aliran hulu Sungai Cipuraseda.
Langkah ini merupakan upaya berkelanjutan untuk melindungi wilayah yang rawan bencana dan memastikan kelangsungan hidup masyarakat yang bergantung pada alam.(Ads)






