Gerakan Kemanusiaan yang Lahir dari Kerisauan Komunitas: Perjalanan FARI, AKSI dan SPINN

0
686 views

Bogorpolitan.com-Bogor
Laporan : Retno Handayani

Dinamika yang terjadi pada tahun 2018 , ketika jaringan nasional pengguna NAPZA bergetar hebat. Percakapan yang biasanya tenang tiba-tiba berubah menjadi pernyataan politik dan perpecahan.

Komunitas akar rumput kebingungan, seperti anak ayam kehilangan induk, sementara pertanyaan datang berulang dari berbagai penjuru. Alih-alih menjawab satu per satu sampai suara habis, muncul ide sederhana namun strategis: buat saja satu ruang bersama, terbuka, aman, dan mudah dijangkau. Bukan ruang yang diatur kepentingan tertentu, melainkan milik komunitas sendiri. Dari kegelisahan kolektif itulah Forum Akar Rumput Indonesia (FARI) lahir bukan sebagai lembaga mapan dengan lampu kristal di lobi, tetapi sebagai inisiatif organik yang menjaga arah gerakan tetap berpihak pada pengguna. FARI tumbuh untuk memastikan komunitas memiliki panggung, suara, dan kedaulatannya sendiri. Ruang di mana pertanyaan tak dianggap mengganggu, perbedaan tidak memecah, dan gerakan tetap dituntun oleh pengalaman hidup mereka yang paling terdampak
Saat ini FARI berkembang tersebar di 12 provinsi, menjangkau kampung, layanan kesehatan, rehabilitasi NAPZA, jendela sosial media , rumah tahanan , hingga ruang-ruang perlawanan yang tak pernah muncul di laporan donor. Di atas kertas, FARI mungkin terlihat lemah karena tidak mendapatkan dukungan pendanaan lembaga. Namun justru di situlah kekuatannya: gerakan ini dibiayai oleh gotong royong, solidaritas, iuran pribadi, dan kesediaan berbagi beban. Sejak awal, FARI membangun basis komunikasinya melalui grup Facebook, yang kemudian berkembang menjadi sistem koordinasi, edukasi, asistensi kasus, hingga penggalangan donasi komunitas melalui WhatsApp Group. FARI adalah pengingat bahwa perlawanan tidak harus menunggu persetujuan siapa pun.
Namun realitas hukum tidak memberi waktu untuk idealisme. Pengguna NAPZA tetap ditangkap, disiksa, diperas , diadili, dijeblokan ke dalam lapas dan dicap sebagai sampah sosial. Negara bergerak cepat untuk menghukum , sementara komunitas pengguna NAPZA yang notabene adalah “korban” sering dibiarkan menebak nasib ditentukan oleh wakil Tuhan di dunia yakni Aparat Penegak Hukum . Dari urgensi itulah (alm) Andrasyah Perdana, S.H , Doddy Parlinggoman dan Bambang Yulistyo Tedjo mendirikan Aksi Keadilan Indonesia (AKSI) adik sulung yang turun langsung ke persidangan, kantor polisi, kejaksaan, advokasi dan ruang kebijakan publik. AKSI dibangun oleh aktivis pengguna NAPZA dan pengacara publik agar hukum berhenti menjadi alat penghukuman, tapi bagaimana masyarakat mendapatkan keadilan yang berkualitas, setara dan mudah dikases oleh warga negara seta kembali menjadi pelindung warga negara Indonesia.
Tetapi perjuangan selalu memiliki ruang yang terlewat. Perempuan pengguna NAPZA menanggung stigma berlapis terkait kekerasan domestik, kehilangan anak, disingkarkan keluarga atau lingkungan, diskriminasi layanan kesehatan, dan penghapusan identitas sosial. Di banyak forum, suara mereka hanya dianggap pelengkap. Maka dibentuklah ruang khusus bernama Womxn’s Voice, saat itu masih dibawah divisi Perempuan AKSI dan Rosma Karlina menjadi koordinatornya. Waktu terus berjalan yang kemudian tumbuh menjadi yayasan independen Suar Perempuan Lingkar NAPZA Nusantara (SPINN), si bungsu yang memastikan pengalaman perempuan tidak lagi dinegosiasikan.
Si Bungsu SPINN melesat cepat, bagai anak panah yang menolak tunduk pada gravitasi nasib dan budaya patriarki yang mengakar. Berangkat dari luka, menjawab dengan karya, dan melayani komunitas dengan hati, SPINN hadir ketika perempuan dan individu dengan ragam gender pengguna NAPZA terpinggirkan oleh sistem, budaya, dan kebijakan. Dari ruang kecil komunitas, gaungnya kini terdengar di panggung lokal, regional, hingga global. Sejak memperoleh legalitas formal pada 2022, SPINN tumbuh menjadi kekuatan strategis dalam gerakan harm reduction, kesetaraan gender, dan perjuangan pemenuhan hak-hak komunitas.
Dalam perjalanannya, SPINN terlibat aktif dalam pendampingan hukum kasus narkotika bekerjasama dengan Forum Akar Rumput Indonesia (FARI), sekaligus menangani berbagai kasus Kekerasan Berbasis Gender yang dialami perempuan dan komunitas dengan ragam gender pengguna NAPZA. Dari ranah layanan hingga meja kebijakan, SPINN memperjuangkan akses kesehatan, keadilan prosedural, dan perlindungan HAM tanpa tedeng aling-aling.
Kiprah SPINN pun menembus batas negara. Undangan hadir untuk menjadi narasumber atau peserta di berbagai perhelatan internasional mulai dari Convening Formerly Incarcerated di Bogotá (2023), Harm Reduction Conference di Sydney (2023), Commission on Narcotic Drugs di Wina (2024), AWID Conference di Bangkok (2024), hingga Harm Reduction Conference di Bogotá (2025) dan Drug Policy Reform Conference di Detroit (2025) menandai bahwa suara komunitas Indonesia tak lagi hanya bergema di dalam negeri.
Pada 2023, SPINN menyelenggarakan SEMEDI Nasional Perempuan Pengguna NAPZA untuk menyoroti absennya perspektif perempuan dan transpuan dalam kebijakan Narkotika serta tingginya kerentanan mereka terhadap KBG, stigma, kriminalisasi, dan pelanggaran HAM. Dengan dukungan Global Fund dan Indonesia AIDS Coalition, kegiatan ini menghimpun focal point dari 30 wilayah FARI untuk memetakan situasi, tantangan, serta kekuatan lokal, sekaligus membangun solidaritas dan strategi advokasi kolektif. SEMEDI menghasilkan data terbaru, arah kampanye nasional berbasis bukti, dan rekomendasi kebijakan untuk revisi UU Narkotika yang lebih gender-sensitif, berkeadilan sosial, dan dipimpin komunitas terdampak. Pada 2024–2025, melalui workshop Lingkar Solidaritas (LINTAS), SPINN melatih 142 peserta tentang isu kunci seperti SRHR, harm reduction, paralegal komunitas, kebijakan narkotika, KBG, dan gender-affirming care. Pelatihan mengusung pendekatan Trauma-Informed Care dan Feminist Harm Reduction, memastikan ruang aman bagi perempuan dan individu dengan ragam gender pengguna NAPZA untuk belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat kapasitas advokasi di wilayahnya masing-masing.
Di tingkat akar rumput, SPINN terus memperkuat kapasitas komunitas melalui edukasi HAM, kesehatan seksual dan reproduksi, harm reduction, serta forum pembelajaran tematik seputar NAPZA, KBG, kesetaraan gender, hukum, dan kebijakan publik. Ruang-ruang aman itu menjadi wadah berbagi pengalaman, pengetahuan, dan solidaritas serupa bengkel perlawanan bermuatan empati. Selain itu, SPINN mengembangkan tata kelola layanan yang lebih manusiawi melalui penyusunan SOP untuk shelter sementara, paralegal komunitas, dukungan psikososial, serta skema rujukan kesehatan yang terintegrasi.
Puncak pengakuan internasional datang pada 2025 ketika SPINN dianugerahi “IPPF Courage Award 2025 – Strategic Partner” dalam forum International Planned Parenthood Federation (IPPF) General Assembly: Lead with Love, Care with Courage di Nusa Dua, Bali yang dihadiri 450 peserta dari 119 negara. Sebuah penanda bahwa kerja komunitas di Indonesia bukan hanya relevan, tetapi juga inspiratif bagi dunia.
SPINN mungkin lahir sebagai yang paling muda dalam gerakan, tetapi keberaniannya jelas bukan balita. Ia hadir bukan sebagai simbol yang dipajang, melainkan jembatan hidup yang menghubungkan pengalaman penyintas dengan perubahan sistemik yang manusiawi, adil, dan setara. Kalau ini bungsu, sangat wajar kalau masa depan gerakan terlihat makin menjanjikan.
Dalam waktu dekat, tiga saudara seperjuangan ini akan kembali berdiri tegak sebagai satu barisan untuk bangkit dari dinamika yang sempat mengguncang pada tahun 2023 dan mengembalikan marwah gerakan serta membangun ekosistem perjuangan yang tak mudah dipecah, digoyang, apalagi dibungkam. FARI menjaga akar, sejarah, dan nurani gerakan. AKSI menembus tembok hukum dan advokasi kebijakan.
SPINN memastikan perempuan dan ragam gender tidak lagi disisihkan dari panggung perjuangan. Kini, mereka akan kembali bersatu sebagai satu kekuatan tajam, teguh, dan pantang mundur , untuk memastikan perjuangan komunitas pengguna NAPZA tetap hidup, tak terbelah, dan terus bergerak menuju keadilan yang sesungguhnya.

Mereka disebut sisterhood bukan karena terdengar indah, tetapi karena persaudaraan ini ditempa dari luka, perlawanan, dan keberanian bertahan hidup. Mereka saling menopang ketika negara absen, saling menjaga ketika ego coba menyelinap, dan saling mengobarkan kembali nyala semangat ketika perjuangan mulai letih.

Kedung Badak, 25 November 2025
Untukmu Komunitasku

Bambang Yulistyo Tedjo
Forum Akar Rumput Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini