BogorPolitan – Kota Bogor,
SMKN 2 Kota Bogor meraih peringkat ke 7 diajang Lomba Tefa atau Teaching Factory yang diselenggarakan Pemerintah yang bekerjasama dengan Astra.
Kepala SMKN 2 Kota Bogor Joko Mustiko kepada media ini mengatakan bahwa Lomba Tefa diselenggarakan bagi sekolah kejuruan yang mendapat bantuan dari pemerintah untuk menyelenggarakan Teaching Factory.
“Tefa ini adalah sistem pembelajaran yang Berbasis Industri, maksudnya adalah produk yang dikerjakan disekolah sebisa mungkin produk yang bisa dipakai oleh industri atau oleh kalangan umum dan itulah yang diperlombakan dalam ajang ini,” jelas Joko mengawali wawancara, Rabu 07/10/2020.
Lomba diikuti SMK se Indonesia, sejumlah 500 SMK ikut dalam ajang yang cukup bergengsi ini. Setelah melalui tahapan seleksi dari 500 SMK lolos 100 SMK kemudian disaring lagi menjadi 50 SMK dan dari 50 sekolah terseleksilah 12 besar dan seleksi terakhir setelah melalui penilaian dari Tim Juri ditetapkan juara 1, 2 dan Juara 3.
“Alhamdulillah SMKN 2 Kota Bogor masuk 10 besar yakni diperingkat ke 7 se Indonesia, tentu ini satu kebanggaan dari prestasi yang telah kita raih dan semoga ini dapat lebih memacu kedepannya untuk dapat membuat produk yang lebih baik lagi,” ucap Joko bangga.
Joko menerangkan Lomba Tefa yang diikuti SMK se Indonesia ini dilaksanakan pengujian atau seleksinya karena masa Pandemi maka dilaksanakan melalui Video Conference.
Tim Juri terdiri dari Astra, Direktorat Jenderal Menengah Kejuruan dan dari Asosiasi Pengusaha.
“Dalam lomba ini yang ditanyakan adalah produk-produk yang dihasilkan oleh sekolah, manfaat produk untuk apa, kemudian kegiatan yang mendukung apa. Tim Jurilah yang kemudian menentukan dan mempunyai kewenangan juara dan peringkat peserta lomba. Dan SMKN 2 Kota Bogor meraih Peringkat ke 7,” jelasnya.
Produk yang ditampilkan SMKN 2 Kota Bogor dalam ajang ini, produk hasil dari Jurusan Mesin yaitu cindramata, medali, catur dan melukis foto.
SMKN 2 Kota Bogor pernah juga membuat alat yang cukup keren yaitu BIM Brain Impulse Monitor sebuah alat pendeteksi gelombang otak manusia yang bisa digunakan untuk mendeteksi kebohongan.
Menurut Joko tingkat akurasi deteksi BIM mencapai 99,9%, bila ada yang memesan siap kita pasarkan, sesama dunia pendidikan seharga Rp. 5,5 juta sementara diluar itu Rp. 7,5 juta.
Dharmawan






