BogorPolitan – Leuwiliang
Laporan : M. Ilyas ||
Kronologis viralnya Vidio dari akun tiktok
@Selvidamayanti27, tentang keluarga Keluarga Korban yang mengamuk di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (IGD-RSUD) Leuwiliang, Kabupaten Bogor.
Ketika di jumpai di Kantornya, Humas RSUD Leuwiliang Amir enggan memberi keterangan karena pihak Management sudah membuat press rilis.
“Itu sudah ada rilis dari management, jadi semua ada jawabannya disana,” kata Dia, Senin 13 November 2023.
Adapun Rilis yang diberikan oleh Amir kepada wartawan di Kantor nya ada beberapa point
Ini Kronoligis Kejadian Yang Sebenarnya Terjadi Di Rsud Leuwiliang
- Pasien masuk hari Kamis, tanggal 09 November 2023, pukul 18.15 WIB yang diantar oleh 1 orang temannya pasca kecelakaan lalulintas.
- Pasien Diterima oleh petugas IGD dalam keadaan sadar dan dapat berkomunikasi, kemudian dilakukan pemeriksaan oleh dokter, mendapatkan terapi, dilakukan pembersihan luka, merawat luka, memasang spalk pada kaki kiri, memberikan suntikan obat penghilang nyeri.
- Dokter memberikan penjelasan kepada keluarga bahwa kondisi pasien dalam keadaan sadar dan dapat berkomunikasi dengan petugas, kemudian dijelaskan bahwa pasien dapat dirawat di RSUD Leuwiliang untuk kondisi patah kakinya dan jika setelah pemeriksaan lanjutan dibutuhkan dokter spesialis bedah syaraf, maka akan dirujuk ke Rumah Sakit yang memiliki dokter spesialis bedah saraf, karena RSUD Leuwiliang belum memiliki dokter spesialis bedah saraf.
- Keluarga pasien datang yaitu orang tua pasien dan dokter memberikan edukasi kembali, tetapi mengatakan tetap menunggu suami pasien datang.
- Setelah suami datang, diberikan edukasi kembali oleh dokter, tentang kondisi pasien sesuai penjelasan di atas.
- Ketika dijelaskan prosedur rujukan, keluarga ingin langsung membawa pasien ke rumah sakit lain dengan kendaraan sendiri.
- Dokter menjelaskan prosedur rujukan antar Rumah Sakit, harus melalui Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu atau SPGDT, sehingga Rumah Sakit yang akan menjadi tempat rujukan, mengetahui kondisi dan kebutuhan pasien. Setelah Rumah Sakit yang dituju siap menerima pasien maka pasien akan diantar menggunakan ambulance Rumah Sakit dengan didampingi oleh kesehatan (perawat/dokter) RSUD Leuwiliang.
- Tetapi setelah dijelaskan, keluarga pasien tetap akan membawa pasien memakai kendaraan sendiri.
- Dokter melakukan edukasi ulang, terkait prosedur SPGDT beberapa kali untuk menjaga, agar kondisi pasien tetap stabil.
- Suami dan keluarga tetap menolak menggunakan SPGDT dan tetap akan menggunakan kendaraan sendiri. Dan ternyata petugas rumah Sakit melihat telah ada kendaraan yang menjemput pasien tersebut.
Namun hal berbeda yang disampaikan Komeng (50), yang mengaku sebagai keluarga pasien (Paman) kepada wartawan di kediamannya.
“Awalnya itu kecelakaan, pas saya sampe kesana korban udah ngegeletak, terus ditaikin ke mobil angkot saya bawa ke puskesmas, karena engga bisa ditangani disana. Akhirnya dirujuk ke rsud leuwiliang, pas nyampe kesana saya minta permohonan untuk diurus, disana dibersihin terus disuruh dirujuk lagi ke rsud kota,” katanya.
Menurut Komeng, sebelumnya korban dinaikin ke mobil Siaga Desa Pangkal Jaya, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
“Karena kakinya mentok, pintu tersebut engga bisa ditutup joknya dibaud enggak bisa dibuka, kami minta mobil dari pihak rumah sakit, kemudian mobil di rumah sakit itu sementara ada, kalau kita harus bayar ya bayar, umum lah dengan orang lain.
Karna apa? Ini kemanusiaan masalahnya menyangkut nyawa manusia, kata dia ada mobil, sebentar lagi sampe, hanya saja nunggu sopirnya,” ujar Komeng.
Dalam kesempatan itu, Komeng membeberkan seluruh kronologis terjadinya peristiwa di IGD RSUD Leuwiliang.
Karena kita nunggunya udah lama hampir 1 jam, kemudian keluarga korban ini udah lama nunggu, terpaksa lah keluar emosi. Setelah semua nya emosi, akhirnya enggak lama dia bilang bahwa mobil sudah ada di terminal leuwiliang, kemudian mobil itu dicari sama anak korban, ternyata di leuwiliang itu di terminal engga ada, kejadian pulang dia ngamuk lagi.
Pas dia udah ngamuk engga lama itu mobil datang, kemudian si korban dipindhin ke mobil yang baru datang. Itupun mobil luar bukan mobil rumah sakit, kayak mobil partai.
Padahal waktu dibelakang itu saya liat ada empat atau berapa, hanya liat dari jauh engga disamperin kesana, karena saya memikirkan korban.
Kalau kita kan mobil sudah berusaha, hanya saja mentok udah engga bisa, wajar saja kita minta dari rumah sakit.
Kalau memang harus di bayar ya kita bayar. Itumah emang pelayanan aja tidak maksimal, bahkan buruk.
Kondisi pasien emang engga bisa ngomong, gabisa apa, karrna mungkin udah kesel lama jadi dia teriak-teriak karena kesakitan. Namanya orang patah gimana sih, mau diangkat gimana,” ungkapnya.






