Oleh : Bambang Yulistyo Tedjo.
Forum Akar Rumput Indonesia
Bogorpolitan.com-Bogor
Laporan : Retno Handayani
Hari Ibu di Indonesia tidak lahir dari kartu ucapan, lomba puisi, atau bunga plastik. Ia berakar pada Kongres Perempuan Indonesia 1928, ketika perempuan dari berbagai latar belakang berkumpul untuk membicarakan hal-hal serius: kemerdekaan, kesehatan ibu dan anak, pendidikan, perkawinan paksa, perdagangan perempuan, dan martabat bangsa. Karena itulah, pada 22 Desember 1959, negara menetapkan Hari Ibu sebagai hari nasional, bukan untuk memuja domestikasi perempuan, melainkan untuk mengenang perjuangan politik perempuan melawan ketidakadilan struktural. Namun sejarah yang keras itu hari ini sering diperingati dengan cara yang lunak, bahkan kosong. Ibu dirayakan dengan seremoni; dibebaskan dari dapur sehari; difoto, dipuji, lalu esoknya kembali memikul beban hidup sendirian. Di titik inilah, makna Hari Ibu sering berhenti di spanduk.
Warung kopi pagi itu seperti biasa: kursi kayu, meja lengket, kopi pahit tanpa gula berlebih, dan kepulan asap tembakau baik yang legal maupun tanpa cukai. Yang tidak biasa hanya obrolannya.
“Siapa pun kita,” kata Surti sambil meniup kopi, “pelajar atau pelacur, jenderal atau kopral, pejabat atau pemadat, wakil rakyat atau penjahat semuanya lahir dari rahim ibu.”
Kalimat sederhana, tapi menampar. Dari situ, kemunafikan sosial bisa dibongkar satu per satu. Ibu mengandung tanpa kontrak. Melahirkan tanpa jaminan. Merawat tanpa hitung-hitungan. Saat anak sakit, ibu yang begadang. Saat anak jatuh, ibu yang mengangkat. Saat anak belum bisa bicara, ibu yang mengajari kata pertama—bahkan sebelum negara mengajarkan sumpah setia.
Masalahnya, pengorbanan itu mendadak dianggap batal ketika si ibu diberi label tertentu. Salah satunya: pengguna NAPZA. Di titik ini, logika warung kopi kalah waras dibanding logika kebijakan. Seorang perempuan bisa sembilan bulan sepuluh hari mengandung, melahirkan, menyusui, dan mengasuh, tetapi cukup satu cap “pengguna”, seluruh sejarah pengorbanannya dihapus. Ia tak lagi dilihat sebagai ibu, melainkan sebagai masalah.
Padahal faktanya pahit dan sering disembunyikan: banyak perempuan pengguna NAPZA justru menjadi korban lebih dulu, seperti kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan, kemiskinan, kerja informal tanpa perlindungan, serta beban pengasuhan seorang diri. Mereka bertahan hidup dengan cara yang sering tidak kita pahami. Dalam banyak kasus, penggunaan NAPZA bukan awal kehancuran, melainkan alarm dari hidup yang sudah lama runtuh.
Namun stigma tak mau tahu sebab. Ia bekerja cepat dan kejam. Perempuan pengguna NAPZA menanggung stigma berlapis, sebagai pengguna dipidana; sebagai perempuan, ia dihakimi moralnya; sebagai ibu, ia dicabut haknya.
“Laki-laki menggunakan NAPZA dianggap pantas atau kalau ketahuan dibilang khilaf,” celetuk Pakde Tedjo.
“Perempuan menggunakan NAPZA , dibilang ibu gagal,” sambung Om Taufik. Tak ada yang tertawa. Ini bukan lelucon.
Ironisnya, pengorbanan seorang ibu justru berlipat ketika ia berada dalam kondisi paling rapuh. Banyak ibu pengguna NAPZA tetap memikirkan anaknya di tengah ketergantungan, tetap mengirim uang meski sedikit, tetap menyimpan rasa bersalah yang tak pernah habis. Tapi negara dan masyarakat sering datang bukan untuk menopang, melainkan untuk menghakimi. Hak keibuan menjadi yang paling cepat dicabut. Anak dipisahkan. Relasi dipatahkan. Proses pemulihan harus dibayar dengan kehilangan status sebagai ibu. Hingga hari ini, hampir tak ada lembaga rehabilitasi NAPZA yang memungkinkan ibu menjalani pemulihan bersama anaknya. Di penjara, situasinya lebih kejam: ibu dipenjara karena kepemilikan NAPZA illegal yang digunakan untuk dirinya sendiri dengan tujuan sebagai relaksasi setelah seharian beraktifitas domestik, yang berakhir perannya sebagai ibu dianggap selesai.
Seolah-olah kasih sayang punya syarat moral yang ditentukan sepihak. Disinilah Hari Ibu seharusnya bicara paling keras. Karena sejarah Hari Ibu bukan lahir dari romantisme, melainkan dari keberanian perempuan melawan ketidakadilan. Maka perempuan pengguna NAPZA bukan antitesis Hari Ibu, mereka justru ujian kejujurannya. Jika kita hanya mau menghormati ibu yang “bersih” menurut standar moral kita, itu bukan penghormatan. Itu seleksi. Jika kita memuja pengorbanan ibu, tetapi menolak mengakui pengorbanan ibu yang jatuh, itu bukan nilai keluarga. Rahim semua perempuan itu sama. Pengorbanannya nyata. Yang sering gagal bukan para ibu, melainkan kita sebagai masyarakat, yang terlalu cepat menghakimi dan terlalu lambat memahami. Hari Ibu semestinya tidak hanya merayakan ibu yang kuat, tetapi juga memeluk ibu yang sedang berjuang pulih. Karena justru di situlah makna pengorbanan seorang ibu diuji dan martabat kita sebagai bangsa ditentukan.






