
Ads ||
BogorPolitan.com, Jakarta
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menerangi seluruh kawasan transmigrasi yang hingga kini belum terjangkau listrik.
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, menyebut masih ada 50 desa transmigrasi di 14 provinsi yang gelap gulita.
“Semua desa akan diprioritaskan mendapat aliran listrik, terutama yang jaraknya maksimal 75 meter dari tiang distribusi terakhir,” kata Viva Yoga dalam rapat koordinasi dengan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung di Gedung Dirjen Ketenagalistrikan, Jakarta, Selasa (2/9/2025).
Data Kementerian Transmigrasi menunjukkan, 50 desa itu tersebar di 24 kabupaten dan 40 kecamatan. Nusa Tenggara Timur mencatat jumlah terbanyak, yakni 13 desa.
Tantangan terbesar berada di wilayah terpencil, salah satunya Desa Oloboju, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dengan jarak 50 kilometer dari tiang listrik terdekat.
Sementara itu, titik terdekat ada di Desa Batu Parigi, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, yang sudah memiliki tiang distribusi di kawasan UPT Saluandeang dan Salulisu.
Viva Yoga menegaskan, sinergi Kementerian Transmigrasi dan Kementerian ESDM menjadi kunci program Listrik Desa (Lisdes) yang menargetkan penyambungan ke 10.068 desa non-listrik di seluruh Indonesia, termasuk 1.567 desa transmigrasi.
“Hampir 100 persen desa transmigrasi sudah teraliri listrik, tinggal menyelesaikan sisanya,” jelasnya.
Selain mengandalkan jaringan PLN, pemerintah juga menyiapkan opsi energi terbarukan.
Beberapa daerah transmigrasi berpotensi memanfaatkan pembangkit tenaga surya, seperti di Kabupaten Simeulue dan Aceh Barat (Aceh), Kotawaringin Barat (Kalimantan Tengah), Poso (Sulawesi Tengah), serta Timor Tengah Utara (NTT).
Viva menegaskan program ini akan terus dikawal hingga desa transmigrasi tidak lagi gelap.
“Dari semua model pembangkit, yang terpenting desa-desa di kawasan transmigrasi bisa terang benderang seperti matahari,” ujarnya.***





