Oleh: Baby Virgarose Nurmaya, Co-founder Yayasan Suar Perempuan Lingkar Napza Nusantara (SPINN)
Bogorpolitan.com || Opini
Setiap tanggal 1 November; komunitas pengguna Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA) di seluruh dunia memperingati “International Drug Users Day”, sebuah hari yang tidak hanya menandai keberadaan kami, tetapi juga menegaskan bahwa kami memiliki hak untuk hidup, bertahan, dan disembuhkan tanpa kekerasan dan stigma.
Bagi saya, hari ini bukan sekadar peringatan. Ia adalah pengingat tentang bagaimana tubuh dan pengalaman perempuan dan individu dengan ragam gender pengguna NAPZA sering kali dijadikan medan kontrol dan kekerasan. Banyak dari kami yang dipaksa untuk memilih antara “pulih” dengan cara yang dipaksakan, atau tetap berada di pinggir karena dianggap tidak layak untuk disembuhkan.
Kekerasan terhadap perempuan dan individu dengan ragam gender yang menggunakan NAPZA jarang dibicarakan, padahal ia terjadi dalam bentuk yang berlapis; dari kekerasan berbasis gender, penolakan layanan kesehatan, kriminalisasi, hingga pengabaian dalam kebijakan publik. Namun dari luka-luka itu, kami belajar bahwa penyembuhan adalah bentuk perlawanan.
Sebagai perempuan dan individu dengan ragam gender yang menggunakan NAPZA, kami tidak menunggu untuk diselamatkan. Kami membangun ruang aman sendiri, kami belajar dari satu sama lain, dan kami saling mengingatkan: hidup kami berharga, bahkan ketika dunia mencoba meyakinkan sebaliknya.
Memasuki “16 Days of Activism Against Gender-Based Violence”, saya bersama rekan-rekan di SPINN; kami membawa pesan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan individu dengan ragam gender pengguna NAPZA bukan isu terpisah. Ia adalah bagian dari sistem kekerasan yang menindas tubuh, pilihan, dan hak perempuan. Perjuangan kami melawan kekerasan adalah perjuangan untuk keberlanjutan hidup, martabat, dan cinta terhadap diri sendiri.
Saya percaya, setiap langkah kecil komunitas menuju empati, dukungan sebaya, dan penerimaan adalah bentuk nyata keadilan gender.
Dan hari ini, 1 November, KAMI TIDAK LAGI BERSEMBUNYI!
“Kami berdiri; tidak untuk dibenarkan, tetapi untuk diakui.
Hari ini, saya belajar bahwa kekuatan tidak selalu berarti tanpa luka. Ia berarti memilih untuk terus berjalan, bahkan ketika dunia menolak untuk melihat langkah kita.”






