Bogorpolitan – Cigudeg
Laporan : M. Ilyas,
Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui Rekonstruksi Pembangunan terdampak Banjir / Longsor Ruas jalan Cigudeg – Kiarasari – Cisangku, sepanjang 24 Kilo Meter (KM), guna mperlancar pergerakan barang dan jasa, dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), yang bersumber dari Bantuan Provinsi (Banprov) Jawa Barat (Jabar).
Dengan nilai anggaran sebesar Dua Puluh Delapan Milyar Rupiah, dinilai lamban dan amburadul, hal tersebut disampaikan Lulu Azhari Lucky yang akrab disapa Ki Jalu, dalam wawancaranya Rabu, 03/11/2021, di Cigudeg.

“Sukajaya Cigudeg – Kiarasari – Cisangku, itu anggaran Banprov Jabar dari program PEN, terdampak bencana nilai proyeknya 28 miliar, gak tahu pemborongannya siapa, kenyataan di lapangan, pekerjaannya sangat memprihatinkan, memalukan jangan-jangan ini Kadisnya pak Biantoro juga tidak tahu, gimana ini fungsi pengawasan yang melekat, ini kan tugasnya beliau sebagai Kadis pupr,” terangnya.
Sebagai Direktur Eksekutif Forum Perencanaan & Percepatan Strategi Penataan Daerah Persiapan Otonomi (FORECAST) Baru Bogor Barat, Ki Jalu juga turun Kelapangan bersama Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), mepertanyakan dimana peran Ketua Komisi III.
“Terus anggota dewan dari Komisi 3 sastra dari Gerindra, beliau ini kan daerah pemilihannya, jangan setelah menjadi ramai di lapangan, banyak masyarakat yang komplain, baru pada turun ke lapangan maka Forecast Bogor Barat, juga dari komponen HMI Bogor Barat ini ikut hadir, sidak awal,” katanya.
Dalam kesempatan itu pula Ki Jalu menyampaikan rasa kekhawatiran mangkrak program PEN yang saat ini lamban.
“Wah ini enggak benar, kalau program pen ini sendiri ditelantarkan, dampaknya nanti di kemudian hari, anggaran berikutnya kalau Banprov itu biasanya kalau ini wanprestasi saja, maka maka lanjutannya luncuran nya ini akan menjadi beban APBD artinya Banprov tidak membiayai lagi ini kan prihatin, jadi saya katakan disini, Kadis PUPR tidak tanggung jawab, dia datang pun belum pernah untuk lakukan monitoring,” tegasnya.
Sementara Konsultan pelaksana dari PT. Kriyasa Abadi Nusantara (KAN), Riyan yang bertugas menangani di segment 6, beralasan selain kondisi lahan dan hujan menjadi hambatan utamanya.
“Kita dibagi enam segment, ini yang paling ujung, selain medannya sulit, juga hujan yang turun mendadak, kita disini baru sebulan,” kilahnya.(Ipay).






