Bogorpolitan.com, Cibinong
Pemerintah kabupaten Bogor memperingati hari Aids sedunia tahun 2025, dengan menyerukan penguatan layanan HIV yang berkelanjutan dan bebas stigma, acara yang di gelar di Darmawan Park Sentul, ini di buka oleh kepala dinas kesehatan yang mewakili bupati Bogor, Rudy Susmanto dan dihadiri unsur OPD, rumah sakit, Puskesmas, organisasi profesi, KPAD, LSM, serta jaringan penggiat HIV, Rabu, 3/12/2025.
Dalam peringatan yang mengusung tema nasional ” Bersama Hadapi Perubahan Jaga Keberlanjutan Layanan HIV “, dalam sambutan Bupati menegaskan bahwa penanggulangan HIV / Aids harus di lakukan secara terencana, lintas sektor, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
” Setiap tanggal 1 Desember, kita di ingatkan kembali untuk memperkuat komitmen, empati, dan solidaritas terhadap saudara kita yang hidup dengan HIV”.
Berdasarkan data epidemiologi 2015-2024, jumlah kumulatif kasus HIV di kabupaten Bogor mencapai 4.801 kasus.
Adapun kasus baru hingga Oktober 2025 tercatat 819 kasus, kabupaten Bogor juga berada pada peringkat kedua tertinggi di Jawa barat , setelah kota bandung.
Bupati menekankan bahwa pola penularan HIV kini bergeser, HIV tidak hanya di temukan pada kelompok beresiko tinggi, tetapi juga pada ibu rumah tangga, remaja, dan para pekerja.
Masih ada odhiv yang belum terdiagnosis karena belum pernah melakukan tes, serta odhiv yang putus obat atau tidak teratur menjalani terapi ARV. Stigma dan diskriminasipun mm asih di temukan di masyarakat, bahkan di lingkungan pelayanan kesehatan.
” Ini bukan sekadar soal ngka, di balik data itu ada manusia orangtua, remaja, ibu hamil, dan anak-anak yang berhak melanjutkan hidup dengan dukungan, bukan penghakiman “.
Dalam sambutan Bupati Bogor yang di bacakan oleh dr.Fusia Meidiawaty, S.H., M.H.Kes, MARS selaku kepala dinas kesehatan menyampaikan sejumlah arahan strategis.
Pertama, penguatan peran KPAD dan dinas kesehatan untuk memastikan koordinasi lintas sektor berjalan secara optimal.
“KPAD adalah simpul penting yang menghimpun komitmen OPD, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan komunitas.
Dinas kesehatan adalah garda terdepan layanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, ” Jelasnya.
Kedua, memastikan keberlanjutan layanan HIV, bupati menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan di kabupaten Bogor untuk menyediakan tes HIV, konseling, dan pengobatan ARV yang mudah di jangkau, ramah, dan bebas diskriminasi.
” Tidak boleh ada masyarakat yang takut atau malu datang ke faskes “.
Layanan HIV juga harus berintegrasi dengan program TB, IMS, kesehatan reproduksi, dan layanan ibu hamil, serta di perkuat melalui jejaring rujukan dan kolaborasi komunitas agar tidak ada odhiv yang lepas dari pantauan layanan.
Bupati juga mengajak masyarakat untuk menghentikan stigma terhadap odhiv.
” HIV bukanlah aib, Odhiv berhak mendapatkan perlakuan yang adil dan manusiawi, mari jadikan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan fasilitas kesehatan sebagai lingkungan yang aman dan mendukung “.
Lebih jauh bupati mendorong penguatan kolaborasi pentahelix pemerintah, dunia usaha, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dan media di minta menjadikan KPAD sebagai pusat koordinasi daerah dalam pencegahan dan penanggulangan HIV.
” Mari bersama mengembangkan kebijakan dan program yang berpihak memperluas edukasi di sekolah, komunitas, dan tempat kerja, serta memastikan tidak ada satupun warga yang tidak mendapatkan layanan “.
Bupati menegaskan bahwa peringatan hari Aids sedunia bukan hanya seremoni, tetapi momentum memperbaharui komitmen bersama.
Pemerintah kabupaten Bogor berkomitmen untuk terus memperkuat layanan, memperluas akses skreening, memastikan ketersediaan ARV, serta meningkatkan edukasi publikasi demi mencapai ending Aids 2030.
” Di harapkan kegiatan ini dapat menginspirasi seluruh pihak untuk ikut berkontribusi dalam mewujudkan kabupaten Bogor yang bebas dari stigma, diskriminasi, dan infeksi baru HIV “.
Yuyun Wahyuni ( Ayu )






