PPTHS Kerjasama dengan IPB Bentuk Green House

0
897 views

BogorPolitan – Kab. Bogor,

Paguyuban Petani Tanaman Hias Sukamakmur (PPTHS) Desa Sukamantri Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor yang beranggotakan sedikitnya 120 Petani Tanaman Hias yang menempati Lahan Percobaan IPB telah membentuk kerjasama dengan IPB dengan membuat Green House di Botani Mart IPB Jl. Raya Dramaga Kabupaten Bogor.

Hal itu diungkapkan Ketua Paguyuban Petani Tanaman Hias Sukamantri Imadudin kepada Bogorpolitan.com di Gerai Tiara Nurseri kemarin.

“Kita menempati Lahan Percobaan IPB diwilayah Desa Sukamakmur Kecamatan Tamansari ini seluas 5 hingga 6 hektar dari total luas lahan 40 hektar, dimana masing-masing petani menempati luas lahan yang berbeda/berpariasi dan sudah kita tempati sejak 10 tahun lalu,” ucap Imadudin yang akrab disapa Dudi mengawali perbincangan.

Awalnya IPB hanya memberikan lahan saja tapi kini ikut serta turun langsung dan ada program-program dalam pengembangan tanaman hias. Salah satunya tadi kerjasama dengan Botani Mart IPB membentuk Green House.

“Kita minta IPB untuk pengembangan Kultur Jaringan untuk mempercepat Pengembangbiakan tanaman dan kita juga sudah deal dengan IPB agar ada Standarisasi Pemakaian Media Tanam, kita minta IPB meneliti Media Tanam yang paling bagus untuk mempercepat proses reproduksi itu seperti apa. Karena selama ini media tanam yang dipakai bagaimana selera masing-masing petani, artinya cocok-cocokan ada yang pake sekam, andam, kompos bambu dan lainnya kita minta tolong IPB bikin formulasi yang bisa mempercepat proses reproduksi dengan media tanam yang sudah ada tapi dikembangkan oleh IPB,” harap Dudi.

Terkait ketersedian Media Dudi mengatakan selama ini tercover 90% sekalipun kosong paling hanya 2 atau 3 hari saja.

Perhatian pemerintah kepada petani tanaman hias Dudi mengatakan dari dulu sudah ada hanya saja antara kita dilapangan dengan pemerintah tidak nyambung, apa yang diminta dan yang diberikan tidak nyambung. Namun Perintah kini lebih cepat menanggapai apa program yang kita ajukan.

“Pemerintah kini cepat tanggap merespon program yang kita ajukan, salah satunya Pemerintah sudah membantu untuk Pipanisasi, Paguyuban ditahun mendatang akan mengajukan untuk pengadaan Sumur Bor, karena Pipanisasi tergantung cuaca bila kemarau airnya tidak mengalir belum lagi perwatannya yang cukup sulit,” tegas Dudi.

Terkait peran Paguyuban Dudi mengatakan Paguyuban dibentuk berawal sebagai inisiatif dasar bahwa sebagai petani yang menggarap lahan IPB ini hanya sebagai media komunikasi dengan IPB saja.

“Kita bentuk Paguyuban itu tidak untuk mengatur masalah tehnis penjualan, tapi mengatur bagaimana kita bisa bekerjasama dengan IPB dan Alhamdulillah kerjasama dengan IPB sudah berjalan 4 tahun ini,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui Trend tanaman hias kini sedang booming, Pandemi menjadi sebuah keberkahan bagi Petani Tanaman Hias. Semua jenis tanaman hias terangkat dan terdongkrak harganya.

“Tapi ini menjadi sebuah catatan, kalau kondisimya seperti ini terus dimana kecepatan tani dengan kecepatan jual sudah tidak imbang, itu yang menjadi PR jangan sampai kita terlena menjual tapi lupa bertani ini yang menjadi kekawatiran saya di kondisi ini,” ujar Dudi menjelaskan.

Sekarang tanaman hias susah, kesulitan tanaman untuk suplay kalaupun adanya harganya sangat melambung bisa naik 200 hingga 300 persen dari harga biasa. Yang paling murah untuk Vertical Garden dari harga Rp. 2000 menjadi Rp. 20.000 – Rp. 30.000, kemudian tanaman jenis Begonia Volkadot dari Rp. 5000 menjadi Rp. 25.000, kalau jenis Tanaman Hias Janda Bolong Variegata jangan ditanya harga perdaun bisa mencapai Rp. 25 juta.

“Kalau harga terlalu tinggi orang bisa jenuh dan beralih, petani tanaman hias pernah mengalami masa drop cukup lama setelah Vase Antorium dengan harga selangit. Petani murni saat ini belum ditemukan, semua ingin dagang. Kondisi sekarang ini siklusmya jual beli-jual beli,” tegasnya.

Dudi yang juga pemilik Tiara Nursery mengatakan digerainya ini lebih dari 100 jenis tanaman hias.

“Yang paling laku jenis tanaman gantung, kemudian Aglonema, juga Philodendrun. Primadona dengan harga terjangkau seperti Begonia juga Janda Bolong Biasa,” ucapnya

Omzet perbulan Tiara Nursery bisa mencapai Rp. 200 juta, dalam 6 bulan ini penjualan mengalami kenaikan hingga 200%, aku Dudi. Penjualan tinggi di Tiara Nursery bukan dari penjualan eceran tapi dari resseler.

Diakhir perbincangan Dudi berharap paguyuban petani yang ia pimpin dapat bersinergi dengan pemerintah.
Paguyuban dan Pemerintah harus saling bersinergi, sinergi kepentingan dan sinergi tujuan itu yang penting.

“Petani dan pemerintah duduk bareng maunya seperti apa, road maps kedepan seperti apa. Pertanian dikita hanya mengandalkan pertanian tradisional tolong pemerintah daerah melalui dinas terkait bisa tidak kita seperti Thailand,” pungkasnya.

Dharmawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini