Jalan Rusak dan “Kolam Dadakan” Sambut Pengendara di Terminal Leuwiliang

0
217 views

Laporan: Gus

Bogorpolitan, Leuwiliang

Suasana di Terminal Leuwiliang belakangan ini tak hanya diwarnai deru mesin angkot dan bus antarkota. Ada “atraksi” tambahan yang gratis dinikmati para pengendara jalan berlubang dan genangan air yang setia hadir hampir setiap hari.

Sejumlah titik di kawasan terminal, Kabupaten Bogor, mengalami kerusakan cukup parah. Lubang-lubang menganga di badan jalan berpadu dengan genangan air yang kerap membanjiri area lalu lintas di dalam dan sekitar terminal.

Alhasil, pengendara bukan hanya dituntut piawai mengemudi, tapi juga jeli memilih jalur—salah belok sedikit, bisa masuk “kubangan kejutan”.

Kepala Terminal Leuwiliang, Wahyu Hidayat, tak menampik kondisi tersebut. Ia mengakui kerusakan jalan dan genangan air itu sudah berlangsung cukup lama.

“Sejak awal kerusakan terjadi, kami bersama warga sekitar sering melakukan penambalan dan pengurugan untuk membantu melancarkan arus lalu lintas,” ujar Wahyu, Senin (23/2/2026).

Upaya tambal-sulam itu, kata dia, ibarat memberi plester pada luka yang belum sempat benar-benar sembuh. Datang hujan deras, tambalan pun kembali terkelupas. Jalan kembali berlubang, genangan kembali menguasai.

Menjelang arus mudik Lebaran, pihak terminal pun tak tinggal diam. Wahyu menyebut pihaknya telah melayangkan surat permohonan bantuan kepada instansi terkait untuk mempercepat perbaikan jalan sekaligus sistem irigasi yang diduga menjadi biang keladi banjir kecil di kawasan tersebut.

“Kami sudah menyurati dinas perhubungan dan instansi jalan nasional. Tapi memang ada kendala soal kewenangan, sehingga belum bisa dilakukan perbaikan permanen,” jelasnya.

Sebelumnya, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional sempat melakukan normalisasi saluran di bagian depan terminal sekitar tiga hingga empat minggu sebelum Ramadan. Hasilnya cukup terasa genangan di area depan terminal berkurang signifikan.

Sayangnya, “episode kering” itu belum merata. Di sejumlah titik lain, genangan dan jalan rusak masih rutin muncul, terutama saat curah hujan sedang tinggi.

Pihak terminal pun memilih bersabar, termasuk menunda kerja bakti tambahan.

“Kami menunggu curah hujan berkurang. Kalau langsung ditambal saat hujan masih sering turun, biasanya cepat rusak lagi,” pungkas Wahyu.

Sementara itu, para pengendara hanya bisa berharap, suatu hari nanti jalan di Terminal Leuwiliang tak lagi menjadi ajang uji refleks dan keseimbangan. Sebab bagi mereka, yang dicari di terminal adalah tujuan perjalanan—bukan sensasi off-road dadakan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini