Oleh : Bambang Yulistyo Tedjo
Forum Akar Rumput Indonesia.
Bogorpolitan.com – Bogor
Laporan : Retno Handayani
Setiap 26 Juni, dunia memperingati Hari Internasional untuk Mendukung Korban Penyiksaan. Pada hari yang sama, Indonesia juga memperingati Hari Anti Penyalahgunaan dan Perdagangan Gelap Narkotika Internasional, yang dikampanyekan sebagai HANI.
Ironisnya, bagi banyak pengguna NAPZA dan keluarganya, kedua peringatan itu bukanlah dua peristiwa yang terpisah. Keduanya bertemu dalam satu kenyataan: penderitaan yang terus diproduksi oleh pendekatan perang terhadap narkotika.
Saat panggung-panggung seremonial menyerukan perang terhadap narkotika, kami justru mengenang mereka yang diburu, ditangkap, diperas, dipaksa mengakui sesuatu, dipaksa menjalani tindakan tanpa persetujuan yang layak, dipenjara, kehilangan pekerjaan, kehilangan keluarganya, dan kehilangan martabatnya. Di balik slogan “menyelamatkan generasi bangsa”, terlalu banyak warga negara yang justru menjadi korban dari kebijakan yang mengedepankan penghukuman daripada pemulihan.
Adiksi telah lama dipahami sebagai persoalan kesehatan. Namun dalam praktiknya, banyak orang yang hidup dengan adiksi masih diperlakukan sebagai musuh negara. Ketika pendekatan represif lebih diutamakan daripada pelayanan kesehatan dan perlindungan hak asasi manusia, maka penderitaan tidak berhenti pada pengguna NAPZA. Luka itu menjalar kepada keluarga, anak-anak, pasangan, dan komunitas mereka.
Kami dipecah belah. Kami distigma. Kami dibuat saling diam karena takut. Tetapi kami masih berdiri. Bukan untuk membela narkotika, melainkan untuk membela hak setiap manusia agar bebas dari perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat.
26 Juni seharusnya menjadi hari refleksi, bukan sekadar selebrasi. Tidak ada makna memperingati Hari Internasional untuk Mendukung Korban Penyiksaan apabila kita menutup mata terhadap berbagai bentuk penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan martabat manusia yang masih dialami dalam penanganan perkara narkotika. Tidak ada kemenangan dalam perang terhadap narkotika jika yang terus berjatuhan adalah hak-hak warga negara.
Selama masih ada orang yang kehilangan kebebasan, martabat, dan masa depannya akibat kebijakan yang lebih mengutamakan penghukuman daripada kemanusiaan, maka bagi kami, 26 Juni bukanlah hari perayaan. Ia adalah hari berkabung, hari perlawanan, dan hari untuk mengingat bahwa tidak ada perang yang dapat dibenarkan jika korbannya adalah manusia yang seharusnya dilindungi oleh negaranya sendiri.






