
Penulis : Eka Rufa ||
Bogorpolitan.com – Cianjur,
Di pinggiran Kampung Bobojong, di antara desir angin yang membawa aroma tanah basah, berdiri sebuah gubuk mungil yang nyaris tak layak disebut rumah.
Berdindingkan triplek bekas yang lapuk, menganga di sana-sini seperti luka yang tak pernah sembuh. Di dalamnya, seorang lelaki tua duduk termenung, menatap hari-hari senjanya yang kian renta.
Dialah Atak Kusmayadi, 59 tahun. Sebuah nama yang mungkin tak pernah terdengar di telinga banyak orang, namun menyimpan seribu luka yang tak terucap.
Pria lanjut usia asal Kampung Bobojong RT 002 RW 001, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur ini memilih bertahan hidup di gubuk reyot berukuran 2×2 meter sebuah ruang yang lebih sempit dari kamar kos, namun menjadi seluruh dunianya.
Bukan karena tak punya keluarga, tapi karena hatinya terlalu mulia untuk menyusahkan orang lain. Atak memilih hidup terpisah dari kerabatnya, menelan kesepian demi meringankan beban mereka. Ia pergi, bukan karena dibuang, tapi karena ia terlalu mencintai.
Diketahui gubuk itu pun bukan miliknya. Dinding dan lantainya terbuat dari triplek bekas pemberian warga kini rapuh, lapuk, dan rusak di sana-sini. Di dalamnya, perabotan berserakan tak beraturan, menimbulkan aroma tak sedap yang menyengat, seolah menceritakan betapa lama ia bertahan dalam keterbatasan.
Perjalanan hidup Atak seolah tak pernah lepas dari luka. Setelah menikah dengan Aay (58), ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun bahtera rumah tangga mereka kandas di tengah jalan. Atak pun harus membesarkan sang buah hati seorang diri menjadi ayah sekaligus ibu bagi darah dagingnya.
Namun takdir berkata lain. Sang anak menderita gangguan jiwa dan epilepsi tanpa pernah mendapat pengobatan yang layak.
Atak merawatnya dengan segenap sisa tenaga, menahan air mata, berharap keajaiban datang. Hingga akhirnya, sang anak menghembuskan nafas terakhir meninggalkan Atak dalam kesendirian yang begitu dalam, begitu sunyi, begitu perih.
Kini, lebih dari dua tahun Atak bertahan hidup di gubuk tersebut, seorang diri, tanpa sanak saudara di sisinya. Hari-harinya dilalui dengan kenangan, dan malam-malamnya ditemani sunyi yang tak bertepi.
Meski raga sudah renta dan sering sakit-sakitan, Atak menolak menyerah pada keadaan. Setiap hari, ia bekerja sebagai kuli serabutan demi sesuap nasi. Upah yang tak seberapa itu ia gunakan untuk membeli lauk pauk dan kebutuhan pokok sehari-hari.
“Untuk makan sehari-hari saja susah. Saya cuma kuli, dapatnya buat beli lauk,” ujar Atak lirih, suaranya hampir tenggelam oleh angin.
Mata tuanya menatap kosong, namun ada kekuatan yang tersisa di baliknya kekuatan seorang lelaki yang telah kehilangan segalanya, namun masih memilih untuk tetap berdiri.
Di tengah keterbatasannya, Atak menyimpan harapan agar ada uluran tangan dari pemerintah. Namun hingga kini, ia mengaku belum pernah merasakan sentuhan bantuan apapun, baik dari pihak desa setempat maupun Pemerintah Kabupaten Cianjur. Harapan itu masih ada, meski ia tahu, ia tak bisa menunggu selamanya.
Cepi (49), tetangga sekaligus pemilik lahan yang ditempati Atak, membenarkan bahwa tanah tersebut adalah miliknya pribadi. Ia dengan ikhlas meminjamkan tempat itu untuk Atak tinggali.
“Ya betul pak, itu lahan tanah milik saya pribadi sementara dipinjamkan untuk tempat tinggal pak Atak. Kita sebagai tetangga harus saling tolong menolong, kasihan pak Atak hidup sebatang kara. Kasihan dia sudah tidak punya apa-apa,” ucap Cepi kepada wartawan, Jum’at (18/09/26). Suaranya pun bergetar, seolah menahan haru.
Masih lanjut Cepi, bahwa bantuan untuk Atak selama ini sangat minim. Paling hanya berupa pemberian seadanya dari para tetangga.
“Kalau bantuan pak Atak minim. Adapun bantuan seadanya, misalkan di satu ke-RT-an, kayak kemarin dapat bantuan satu orang tiga karung beras dari desa. Satu karung beras itu dikumpulkan kembali di pihak RT, kemudian yang tidak kebagian langsung dari desa baru dibagi-bagi kembali untuk warga yang tidak kebagian, seperti pak Atak kebagian dari hasil yang dikumpulkan oleh RT untuk dibagikan. Mungkin seperti itu yang saya ketahui,” tandasnya.
Di balik dinding triplek bekas itu, ada seorang lelaki tua yang masih bertahan, masih berharap, masih percaya bahwa suatu hari, tangan-tangan baik akan datang menjemputnya dari kesunyian.
Atak bukan sekadar angka statistik kemiskinan. Ia adalah ayah, ia adalah manusia, ia adalah bagian dari kita. Dan selama masih ada Atak di gubuk itu, selama itu pula ada luka yang menunggu untuk disembuhkan.





