AKSI Adakan Lokakarya Kekerasan Berbasis Gender

BogorPolitan-Kab.Bogor

Pendekatan HAM yang berkeadilan Gender , Napza serta kesehatan jiwa

Organisasi komunitas AKSI KEADILAN INDONESIA yang konsen menjadi penggiat aksi perubahan bagi terciptanya keadilan derajat , martabat dan kedudukan bagi masyarakat dalam kehidupan sosial mengadakan Lokakarya
“Mengidentifikasi Efek Pandemi COVID-19 terhadap Kekerasan Berbasis Gender pada Komunitas Perempuan, Transpuan dan Anak dalam Lingkar Napza di Indonesia”.

Lokakarya yang berlangsung selama 3 hari 2 malam (Senin – Rabu, 7 – 9 Desember 2020) dan berlokasi di Cico Resort Cimahpar Bogor Utara ini dihadiri oleh 20 orang Perempuan dan Transpuan yang merupakan Champion dan Leader WomXn Voice se-jabodetabek
Untuk diketahui Champion dan Leader WomXn Voice adalah kumpulan kolektif Perempuan dan Transpuan Pengguna Napza Se-jabodetabek.
Champion/Leader
Womxn Voice se-Jabodetabek mempunyai kriteria sebagai berikut :
– Perem/transpuan pengguna Napza
– Perem/transpuan yang hidup dengan
HIV
– Perem/transpuan pengguna Napza
dalam pemulihan/sedang dalam
terapi subtitusi
– Perem/transpuan yang tidak
menggunakan Napza namun
memiliki kepedulian terhadap isu
Napza dan HAM
Kumpulan kolektif ini dibentuk melalui seleksi Leader dan melaksanakan lokakarya mengenai gender dan kepemimpinan ,Salah satu tanggung jawab Leader adalah merekrut Champions di wilayah masing-masing yang akan turut bergerak bersama dalam melakukan advokasi dalam isu penggunaan napza.
Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan International Day of Elimination of Violence against Women setiap tanggal 25 November aatau Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP)
Peringatan ini juga sekaligus menandai peluncuran kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang berlangsung dari 25 November hingga 10 Desember setiap tahunnya.
Kampanye ini bertujuan untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan berbasis gender di seluruh dunia, terutama di masa pandemi COVID-19.

Pada 2020 ini, Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) memilih tema Orange the World: Fund, Respond,
Prevent, Collect. Tema besar itu diambil lantaran di berbagai negara, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan dalam ranah domestik seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan terlebih sejak diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial di masa pandemi seperti sekarang ini.
Peningkatan kekerasan pada perempuan dan anak selama pandemi ternyata dibuktikan lewat laporan terbaru yang dirilis oleh Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk kesetaraan gender dalam pemberdayaan perempuan, UN Women.
Menurut laporan tersebut, 243 juta perempuan dan anak perempuan di dunia berusia 15-49 tahun menjadi objek kekerasan seksual dan fisik selama 12 bulan terakhir.
Kondisi kekhawatiran akan keamanan, kesehatan, dan keuangan akibat kondisi
kehidupan yang sempit dan terbatas selama lockdown (penguncian) meningkatkan tensi serta ketegangan
dalam keluarga sehingga memicu timbulnya tindakan kekerasan.
Mengutip rasa kekhawatiran yang langsung disampaikan oleh Sekjen PBB Antonio Guterres pada April 2020
lalu;
“Banyak perempuan yang dikarantina karena COVID-19 menghadapi kekerasan di tempat yang
seharusnya paling aman, yakni di rumah mereka sendiri. Hari ini saya memohon perdamaian dari semua orang di seluruh dunia.
Saya juga mendesak pemerintah untuk mengutamakan keselamatan
perempuan saat mereka menghadapi pandemi.”

Lalu bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Budaya patriarki yang kental, mengkondisikan ketimpangan
relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan sehingga mendorong tingginya angka kekerasan yang terjadi
pada perempuan di masa pandemi ini. Hal ini diperkuat, berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), sejak 14 Maret-22 April 2020 telah terjadi 105 kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan 106 korban yang 67 diantaranya mengalami KDRT.
Kondisi ini pun sangatlah rentan dialami oleh kelompok perempuan, transpuan dan anak dalam lingkar Napza
Indonesia. Ironisnya, kelompok ini selalu dinilai sebagai populasi tersembunyi sehingga minim akan akes terhadap penanganan serta layanan yang tepat berdasarkan kebutuhan mereka, dimana hal ini adalah merupakan kewajiban Negara dalam menjamin pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM) – khususnya Hak
atas Kesehatan dari setiap warga negaranya.

Hal tersebut yang melatarbelakangi AKSI KEADILAN INDONESIA mengadakan “Lokakarya Mengidentifikasi Efek Pandemi COVID-19 terhadap Kekerasan
Berbasis Gender (KBG) pada Komunitas Perempuan, Transpuan dan Anak dalam Lingkar Napza di Indonesia”
Lokakarya selama tiga (3) hari ini diharapkan dapat memberi ruang aman bagi peserta untuk membahas kerumitan masalah terkait kekerasan berbasis gender yang dialami oleh kelompok perempuan, transpuan dan anak dalam lingkar Napza di masa pandemi ini. Kemudian peserta diharapkan dapat duduk bersama merumuskan pernyataan masalah dan sikap berdasarkan kebutuhan yang teridentifikasi, untuk
dijadikan sebagai salah satu data pendukung dalam mengembangkan intervensi dan program konkret
untuk memperjuangkan Hak Asasi khususnya Hak atas Kesehatan perempuan, transpuan dan anak dalam
lingkar Napza di Indonesia – tidak terbatas bagi mereka yang juga hidup dengan HIV; misalnya melalui
pembaharuan komitmen bersama lintas sektor pada program penjangkauan, dukungan sebaya, serta layanan komprehensif bagi korban kekerasan seksual.

Tujuan dari Lokakarya ini adalah agar
Peserta memiliki pemahaman akan HAM khususnya dalam pemenuhan Hak atas Kesehatan yang berkeadilan gender bagi perempuan, transpuan dan anak dalam lingkar Napza di Indonesia.
Peserta juga dapat dapat membangun kepercayaan dalam komunitas dan memberikan informasi tentang
ketersediaan pelayanan kekerasan seksual, bagaimana mendapatkan akses dan bahwa pelayanan tersebut akan menolong orang yang selamat/korban dan keluarga mereka.
Dan juga Peserta membahas kompleksitas masalah yang terkait dengan KBG, penggunaan Napza serta kesehatan jiwa di masa pandemi ini , Seperti membahas integrasi layanan (one-stop service) bagi perempuan, transpuan dan anak dalam lingkar Napza yang menjadi korban kekerasan berbasis gender untuk pengurangan dampak buruk HIV/AIDS; baik layanan tes dan perawatan HIV serta konseling terkait permasalahan kesehatan jiwa.
Selanjutnya peserta membahas bagaimana upaya terbaik dalam menjalankan kerja-kerja advokasi untuk perubahan kebijakan terkait kriminalisasi pengguna Napza, kesehatan jiwa dan KBG.

Lokakarya tiga (3) hari ini dilakukan secara partisipatif dengan meningkatkan jumlah diskusi guna mempelajari serta menganalisa kehidupan perempuan, transpuan dan anak secara umum menggunakan pendekatan HAM yang berkeadilan gender, Napza serta kesehatan jiwa – dibantu oleh dua (2) Fasilitator dan dua (2) Narasumber yang berpengalaman di bidangnya.

Pelaksanaan lokakarya ini merupakan dukungan dari Women Fund Asia , Women’s Fund Asia adalah dana perempuan regional, berkomitmen untuk mendukung intervensi yang dipimpin perempuan dan trans untuk meningkatkan dan memperkuat akses ke hak asasi perempuan dan trans.
Mereka membayangkan wilayah yang damai dan egaliter di mana partisipasi perempuan dan trans , kepemimpinan dan penikmatan hak asasi manusia mereka dijamin dan terjamin.
Mandat inti mereka adalah untuk mendukung kelompok dan aktivis perempuan dan trans hak asasi di Asia, menangani tidak tersedianya sumber daya untuk pekerjaan perempuan dan hak trans di kawasan, dan mendukung strategi dan intervensi yang dirancang, dilaksanakan dan dipimpin oleh perempuan dan trans.

Peserta dari Lokakarya ini diharapkan memiliki pemahaman akan HAM khususnya dalam pemenuhan Hak atas Kesehatan yang berkeadilan gender bagi perempuan, transpuan dan anak dalam lingkar Napza di Indonesia.
Serta dapat membangun kepercayaan dalam komunitas dan memberikan informasi tentang ketersediaan pelayanan kekerasan seksual,bagaimana mendapatkan akses dan pelayanan tersebut akan menolong orang yang selamat/korban dan keluarga mereka.

(Retno Handayani)

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!