Sosialisasi Empat Pilar bersama Dr. Rifka Tjiptaning Anggota Komisi VII DPR-RI

BogorPolitan -Sukabumi

Giat kunjungan Anggota DPR-RI, Komisi VII, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Dr. Rifka Tjiptaning, P AAK, di Kantor Dewan Pengurus Cabang (DPC) Kabupaten Sukabumi, Rabu 19/05/2021, dengan 3 agenda sekaligus.

Melakukan sosialisasi Empat Pilar dengan tema ‘Pancasila Sebagai Dasar dan Idiologi Negara, UUD RI Tahun 1945 Sebagai konstitusi Negara Serta Ketetapan MPR NKRI Sebagai Bentuk Negara Bhineka tunggal Ika Sebagai Semboyan’

Menjadi pembicara di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta mengunjungi Susan di Rumah Sakit Sekarang Wangi.

Dalam wawancaranya usai mengisi kegiatan sosialisasi empat pilar, Dr. Rifka Tjiptaning, terus memberikan semangat kepada kader di wilayah Daerah pemilihannya.

“Sayang aja ketemu temen temen PAC, audiensi sama ranting 3 Kecamatan, sekalian halal bil halal, sekalian Rakercam, kemarin sebetulnya sudah Rakercam KSB PAC, bagian pak Bambang dan Pak Subur, saya kebagian Sumsel dan Banten, ini kan dapil ku, aku harus kasih semangat,” ungkapnya.

Selain memberikan semangat kepada para kader militannya, Dr. Rifka Tjiptaning juga menjadi pembicara di LIPI sebagai Mitra Kerja Komisi VII.

“LIPI itu kan Mitra kerja komisi 7, mengumpul kan guru SMA itu untuk bisa mengajari, siswanya bagai mana cara membuat proposal yang baik agar tidak asal-asalan harus sesuai dengan kondisi Sukabumi,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Rifka Tjiptaning juga melakukan kunjungan ke Susan yang mengalami kebutaan juga kedua belah kakinya kaku setelah melakukan vaksin kedua.

“Kebetulan emang belum ketemu Susan, tapi staff udah ketemu lama, kebetulan kesini, susan pas kebetulan kontrol di RSUD Sekar Wangi, jadi aku yang harusnya buka ada LIPI dengan guru-guru SMA aku lari dulu, karena kata pak kadus ada orangnya, makanya aku lari dulu kesana, setelah ijin sama LIPI mau ketemu sama bu Susan, kalau udah ketemu kan enak walaupun kemarin hanya staff bu Anggi,” urainya.

Walaupun Susan telah menyampaikan keluhan akan adanya rasa pening, gemetar dan mual kepada petugas medis, dikala penyuntikan awal, namun dibilang biasa, Rifka menambahkan

“Kalau bu Susan pas ditanya secara ilmu Kedokteran masuk akal, aku ini kan dokter, Susan apa yang dirasa, pada saat suntik pertama, aku sudah ada rasa bu, keleyengan, gemetar terus mual, nah waktu suntik kedua saya sudah ngomong, saat suntik pertama saya ada keluhan, tapi dibilangnya enggak apa-apa itu mah biasa, kayak begitu dibilang biasa langsung lah terjadi itu, kakinya kaku, baur-baur matanya enggak melihat,” ucapnya.

Rifka sangat menyayangkan apa yang terjadi pada Susan, seharusnya petugas melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, dengan tidak memaksakan Susi untuk melakukan Vaksin atas dasar keluhan yang disampaikannya, karena itu sudah melanggar Hak Asasi Manusia

“Bukan sosialisasi itukan harus ada pemeriksaan, kalau Susan nya udah kooperatif dia guru artinya kaum intelektual, dia udah ngomong, saya kemarin waktu disuntik pertama udah ada keluhan ini, harusnya tidak dipaksakan, cuma dia tidak bisa menolak secara frontal, habis semua disuruh diharuskan, sebenarnya disuruh dengan di paksa itu sudah pelanggan HAM,

Karena dia sudah ngomong udah ada keluhan, tapi tetap dilakukan yang kedua, ini bukan kelalaian itu mah pemaksaan, kalau kelalaian kan tidak disengaja, inikan disengaja, karena bu Susan nya udah ngomong,” tegasnya. (Ipay).

Share this:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!